A. Pengertian Amtsal
Secara bahasa amtsal adalah
bentuk jamak dari kata matsal (perumpamaan) atau mitsil (serupa) atau matsil,
sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu :
1.
Menurut
ulama ahli Adab, amtsal adalah upacara yang banyak menyamakan keadaan sesuatu
yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju.
2.
Menurut
ulama ahli Bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya
karena adanya persamaan yang dalam ilmu-ilmu balaghoh disebut tasyabih.
3.
Menurut
ulama ahli tafsir adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan
yang indah, singkat dan menarik yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk
tasybih maupun majaz mursal.
B. Rukun Amtsal (Tasybih)
Rukun amtsal ada empat, yaitu:
1. Wajah syabbah
Yaitu pengertian yang
bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih
2. Alat tasybih
Yaitu kaf, mitsil, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan
makna perseruan.
3.
Musyabbah
Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabbah bih.
Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabbah bih.
4. Musyabbah bih
Yaitu sesuatu yang diserupai
oleh musyabbah.
C. Macam-Macam Amtsal
1.
Amtsal
musharrahah
Yaitu amtsal yang jelas,
yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata menunjukkan
penyerupaan.
2.
Amtsal
kaminah
Yaitu amtsal yang tidak
menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan tetapi kalimat
itu mengandung pengertian mempesona, sebagaimana yang terkandung di dalam
ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).
3.
Amtsal
mursalah
4.
Yaitu
kalimat-kalimat al-Qur'an yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi
penyerupaan, tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan.
Tetapi khusus mengenai
amtsal mursalah, para ulama berbeda pendapat dalam menganggapinya.
Sebagian ulama menganggap
amtsal mursalah telah keluar dari etika al-Qur'an.
Menurut Ar-Razi ada
sebagaian orang-orang menjadikan ayat lakum dinukum wa liyadin sebagai
perumpamaan ketika mereka lalai dan tak mau menaati perintah Allah. Ar-Razi
lebih lanjut mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan sebab Allah
tidak menurunkan ayat ini untuk dijadikan perumpamaan, tetapi untuk diteliti,
direnungkan dan kemudian diamalkan.
Sebagian ulama lain
beranggapan bahwa mempergunakan amtsal mursalah itu boleh saja karena amtsal,
termasuk amtsal mursalah lebih berkesan dan dapat mempengaruhi jiwa manusia.
Seseorang boleh saja menggunakan amtsal dalam suasana tertentu.
D. Manfaat Amtsal Al-Qur'an
Manna al-Qaththan
menjelaskan bahwa diantara manfaat al-Qur'an adalah berikut ini:
1.
Menampilkan
sesuatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) ke dalam sesuatu yang
konkret-material yang dapat di indera manusia.
2.
Menyingkap
makna yang sebenarnya dan memperlihatkan hal yang gaib melalui paparan yang
nyata.
3.
Menghimpun
arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebagaimana terlihat dalam amtsal
kaminah dan amtsal mursalah.
4.
Membuat
si pelaku amtsal menjadi senang dan bersemangat.
5.
Menjauhkan
seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi.
6.
Memberikan
pujian kepada pelaku.
7.
Mendorong
giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam al-Qur'an.
8.
Pesan
yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati lebih mantap dalam
menyampaikan nasehat dan lebih kuat pengaruhnya.
9.
Menghindarikan
dari perbuatan tercela.
Allah banyak menyebut amtsal
dalam al-Qur'an untuk pengajaran dan peringatan. Allah SWT berfirman dalam QS.
Az-Zumar : 27:
Artinya: “Sesungguhnya telah
Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur`an ini Setiap macam perumpamaan supaya
mereka dapat pelajaran”.
QS. Al-Ankabut : 43
Artinya: “Dan
perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu”.
E. Penggunaan Amtsal Sebagai Media Dakwah
Berkaitan dengan media
dakwah, Musthafa Mansyur menyatakan bahwa setiap pendakwah harus membekali
dirinya dengan pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya
sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya. Salah satu strategi yang dapat
digunakan adalah melalui media amtsal.
Pesan yang disampaikan
melalui amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan nasehat,
dan lebih kuat pengaruhnya. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW banyak
menggunakan amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru dakwah
dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media matsal.
Contoh-contoh amtsal dalam
al-Qur'an Berikut ini adalah beberapa contoh amtsal dalam al-Qur'an:
1.
Perumpamaan
tentang orang kafir (QS. Al-baqarah : 71)
2.
Perumpamaan
orang-orang musyrik (QS. Al-Ankabut : 41)
3.
Perumpamaan
orang mukmin (QS. Huud ; 24)
4. Perumpamaan orang menafkahkan harta
(QS.Al-Baqarah: 261)
5.
Perumpamaan
tentang kehidupan dunia (QS. Yunus : 24)
6.
Perumpamaan
tentang pergunjingan (QS. Al-Hujurat : 12)
F. Pengertian
Qashas
Qashas
berasal dari kata al-qossu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatan :
“قصصت أثرة”, artinya, saya
mengikuti atau mencari jejaknya.
Qasas
al-qur`an adalah pemberitaan qur`an tentang hal ihwal umat yang telah lalu,
nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
G. Macam-macam
kisah
1.
Kisah para nabi, Kisah ini mengandung
mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap
orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta
akibat-akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai serta golongan yang
mendustakan. Misalnya kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Isa dan
Nabi-nabi lainnya.
2.
kisah-kisah yang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan
orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya orang yang keluar dari
kampong halaman, yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan
Jalut, kisah Qabil dan Habil, Penghuni Gua, Zulkarnain, Karun, Orang-orang yang
menangkap ikan pada hari Sabtu, Maryam dan lain-lain.
3.
kisah yang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa rasulullah,
seperti perang Badar dan perang Uhud dalam surah Ali Imran, perang HUnain dan
Tabuk dalam surah at-Taubah, dan lain sebagainya.
H. Pengulangan
Kisah dan Hikmahnya
Qur`an banyak mengandung berbagai kisah yang di ungkapkan
berulang-ulang di beberapa tempat. Sebuah kisah kadang berulang kali di
sebutkan dalam Qur`an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di
satu tempat ada bagian-bagian yang dahulukan, sedang di tempat lain di
akhirkan. Demikian pula terkadang di kemukakan secara ringkas dan kadang-kadang
secara panjang lebar. Diantara
hikmahnya antara lain :
4.
Menjelaskan
ke-balagha-an alQur`an dalam tingkat paling tinggi. Sebab diantara keistimewaan
balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam bentuk yang
berbeda. Dan kisa yang berbeda itu dikemukakan disetip tempat dengan uslub yang
berbeda satu dengan yang lainnya serta dituangkan dalam pola yang berlainan
pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat
menambah kedalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan ketika membaca
di tempat yang lain.
5.
Menunjukkan kehebatan
mu`jizat Qur`an. Sebab mengemukakan suatu makna dalam berbagai susunan bentuk
kalimat dimana salah satu bentukpun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab,
merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa Qur`an itu dating dari Allah.
6.
Memberikan perhatian
besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantab dan melekat
dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan
indikasi betapa besarnya perhatian. Misalnya kisah Musa dan Fir`un. Kisah ini
menggambarkan secara sempurna pergulatan sengit antara kebenaran dan kebatilan,
dan sekalipun kisah tu sering diulang-ulang, tetapi pengulangannya tidak pernah
terjadi dalam sebuah surah.
7.
Perbedaan tujuan yang
karenanya kisah itu diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya diterangkan
disatu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedangkan makna-makna
lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntutan keadaan.
I.
Pengaruh Kisah-kisah
al-Qur`an dalam pendidikan
Tidak diragukan lagi bahwa kisah yang baik dan cermat
akan digemari dan menembus relung jiwa manusia dengan mudah. Segenap perasaan
mengikuti alur kisah tersebut tanpa merasa jemu dan kesal, serta
unsure-unsurnya dapat dijelajahi akal sehingga ia dapat memetik dari keindahan
tamannya aneka ragam bunga dan buah-buahan.
Pelajaran yang disampaikan dengan metode talqin dan
ceramah akan menimbulkan kebosanan, bahkan tidak dapat diikuti sepenuhnya oleh
generasi muda kecuali dengan sulit dan berat serta memerlukan waktu yang cukup
lama. Oleh karena itu, maka uslub qasasi (narasi) sangat bermanfaat dan
mengandung banyak faedah. Pada umumnya, anak-anak suka mendengarkan
cerita-cerita, memperhatikan riwayat kisah, dan ingatannya segera menampung
apa yang diriwayatkan kepadanya,
kemudian ia menirukan dan mengisahkan.
Fenomena fitrah kejiwaan ini sudah seharusnya
dimanfaatkan oleh para pendidik dalam lapangan pendidikan, khususnya pendidikan
agama yang merupakan inti pengajaran dan soko guru pendidikan.
Dalam kisah al-Qur`an terdapat lahan subur yang dapat
membantu kesuksesan para pendidik dalam melaksanakan tugasnya dan membekali
mereka dengan bekal kependidikan berupa peri hidup para nabi, berita-berita
umat terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan masyarakat dan hal ihwal
bangsa-bangsa. Dan semua itu dikatakan dengan benar dan jujur. Para pendidik
hendaknya mampu menyuguhkan kisah-kisah qur`ani itu dengan uslub bahasa yang
sesuai dengan tingkat nalar pelajar dalam segala tingkatan.
J.
Kesimpulan
Jadi dari pengertian dalam
makalah saya dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut:
- Amtsal adalah suatu perumpamaan yang hanya ada dalam pikiran (abstrak) dengan diskripsi sesuatu yang dapat diindra (konkret), melalui pengungkapan yang indah dan mempesona, baik dengan jalan tasybih, isti'anah, rinayah dan mursal.
- Amtsal dalam al-Qur'an dibagi menjadi:
- Amtsal musharrah
- Amtsal kaminah
- Amtsal mursalah
- Manfaat-manfaat amtsal
- Penggunaan amtsal dalam media dakwah lebih mudah diterima.
Sedangkan qashas dalam al-qur`an adalah
sebuah kisah/cerita yang terjadi pada masa lalu baik pada masa nabi,
peristiwa-peristiwa pada masa nabi serta peristiwa-peristiwa pada masa nabi
Muhammad, yang mengandung arti yang
sangat berguna untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari.
Daftar Puataka
Syadah Ahmad,
Rofi’i Ahmad, Ulumul Qur’an II, Bandung,
CV Pustaka Setia, 2000
Ahmad
Musthafa Hadna, Problematika Menafsirkan Al-Qur’an, Semarang, Dina Utama, 1993.
Supiana,
Karman, Ulumul Qur’an, Pustaka Islamika, Bandung, 2002.
Wap.islami.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar