KONSTRUKTIVISME
DAN PEMBELAJARAN
Oleh:
Taufikurrahman, M.Pd.I
A.
KONSTRUKTIVISME
Konstruktivisme berfokus pada: bagaimana orang
menyusun arti, baik dari sudut pandang mereka sendiri, maupun dari interaksi
dengan orang lain. Dengan kata lain, individu-individu membangun struktur
kognitif mereka sendiri, persis seperti mereka mengintepretasikan
pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu. Pandangan ini didasari oleh
penelitian Piaget, Vygotsky, psikologi Gestalt, Bartlett, dan Brunner.
Satu cara untuk mendapatkan intisari pandangan konstruktivisme
adalah membahas dua bentuknya, yaitu konstruktivisme individu dan sosial.
1. Konstruktivisme
Individu
Pandangan ini fokus pada kehidupan “inner psikologi”
manusia, yakni mengartikan sesuatu dengan menggunakan pengatahuan dan
keyakinannya secara individu. Pengetahuan disusun dengan mentransformasikan,
mengorganisasi, dan mereorganisasikan pengetahuan yang sebelumnya. Pengetahuan
bukan merupakan cermin dari luar, walaupun pengalaman mempengaruhi pemikiran,
dan pemikiran mempengaruhi pengetahuan.
Eksplorasi dan penemuan, jauh lebih penting dari
pengajaran. Piaget menekankan pada hal-hal yang masuk akal dan konstruksi
pengetahuan yang tidak bias secara langsung dipelajari dari lingkungan.
Pengetahuan muncul dari merefleksikan dan menghubungkan kognisi atau
pikiran-pikiran kita sendiri, bukan dari pemetaan realitas eksternal. Piaget
melihat lingkungan sosial sebagai sebuah faktor penting dalam pengembangan
kognisi, tapi dia tidak meyakini bahwa interaksi sosial merupakan mekanisme
utama dalam mengubah pikiran.
2. Konstruktivisme
Sosial
Vygotsky meyakini, bahwa interaksi sosial, unsur-unsur
budaya, dan aktivitasnya adalah yang membentuk pengembangan dan pembelajaran
individu. Atau dengan kata lain, pengetahuan disusun berdasarkan interaksi
sosial dalam konteks sosialbudayanya. Pengetahuan merefleksikan dunia luar yang
disaring dan dipengaruhi oleh budaya, bahasa, keyakinan, interaksi antar
sesama, pengajaran klasikal, dan role modeling.
Penemuan yang terencana, pengajaran, model dan
pelatihan, seperti juga pengetahuan, keyakinan dan pemikiran siswa,
mempengaruhi pembelajaran. Vygotsky juga dianggap sebagai konstruktivis sosial,
sekaligus individu. Yang pertama, disebabkan teorinya sangat bergantung kepada
interaksi sosial dan konteks budaya dalam menjelaskan pembelajaran. Beberapa
teoritikus mengkategorikannya sebagai konstruktivis individu, karena
ketertarikannya dalam pengembangan individu.
B.
DIMENSI-DIMENSI
PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
1. Lingkungan Belajar
yang Kompleks dan Tugas-tugas Otentik
Siswa tidak boleh diberikan bagian-bagian yang
terpisah, penyederhanaan masalah, dan pengulangan keterampilan dasar, tetapi
sebaliknya: siswa dihadapakan pada lingkungan belajar yang kompleks, terlihat
samar-samar, dan masalah yang tidak beraturan.
Masalah-masalah yang kompleks itu harus dihubungkan
pada aktivitas dan tugas yang otentik, karena keberagaman situasi yang siswa
hadapi tersebut, seperti juga aplikasi yang mereka hadapi tentang dunia nyata.
2. Negosiasi Sosial
Tujuan utama pembelajaran adalah untuk mengembangkan
kemampuan siswa dalam membangun serta mempertahankan posisi mereka, dan disaat
bersamaan menghormati posisi orang lain dan bekerjasama untuk berdiskusi atau
membangun pengertian bersama-sama. Guna mnyelesaikan perpaduan ini, haruslah
berbicara dan mendengarkan satu sama lain. Dengan kata lain, proses mental ini
melalui negosiasi sosial dan interaksi, sehingga kolaborasi dalam pembelajaran
dapat dimungkinkan, yakni melahirkan sebuah sikap intersubyektif – sebuah
komitmen untuk membangun keragaman pengertian dan menemukan kesamaan umum serta
perpaduan penafsiran.
3. Keragaman Pandangan
dan Representasi Bahasan
Acuan-acuan untuk pembelajaran harus sudah dapat
memfasilitasi representasi beragam bahasan dengan menggunakan analogi contoh
dan metafora yang berbeda. Peninjauan materi yang sama, pada waktu yang
berbeda-beda dalam penyusunan kembali konteks untuk tujuan yang berbeda, dan
dari pandangan konseptual yang berbeda adalah penting untuk mencapai tujuan
kemampuan pengetahuan yang lebih maju.
4. Proses Konstruksi
Pengetahuan
Pendekatan konstruktivisme mengedepankan untuk membuat
siswa peduli pada peran mereka dalam membangun pengetahuan. Asumsinya adalah
keyakinan dan pengalaman individu, membentuk apa yang dikenal sebagai dunia.
Asumsi dan pengalaman berbeda, mengarahkan kepada pengetahuan yang berbeda
pula. Apabila siswa peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang membentuk pola pikir
mereka, maka mereka akan lebih mampu untuk memilih, mengembangkan, dan
memanfaatkan posisi dengan cara introspeksi diri, pada saat yang bersamaan
menghormati posisi orang lain.
5. Pembelajaran Siswa
Terhadap Kesadaran Dalam Belajar
Fokus dalam proses ini adalah menempatkan berbagai
usaha siswa untuk memahami pembentukan pembelajaran dalam pendidikan. Kesadaran
yang timbul pada diri siswa, bukan berarti guru melonggarkan tanggungjawabnya
untuk memberikan pengarahan atau bimbingan.
C. Unsur-unsur Penting
dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis
Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah
kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam
lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
1. Memperhatikan dan
memanfaatkan pengetahuan awal siswa
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa
dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi
pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya.
Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan
memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada
diri siswa.
2. Pengalaman belajar
yang autentik dan bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran
dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat,
sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam
merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha
untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya
dari kehidupan seharihari, dan juga penerapan konsep.
3. Adanya lingkungan
sosial yang kondusif,
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara
produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada
kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
4. Adanya dorongan agar
siswa bisa mandiri
Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap
proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk
melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.
5. Adanya usaha untuk
mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip,
teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran
sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan”
ilmuwan.
D.
Prinsip dan
Karakteristik Belajar Konstruktivis
1. Prinsip-prinsip
konstruktivisme dalam belajar
Suparno
(1997) mengidentifikasi 4 prinsip kondtruktivis dalam belajar yakni :
a. Pengetahuan dibangun
oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial,
b. Pengetahuan tidak dapat
dipindahkan dari pembelajar kepada pebelajar, kecuali dengan keaktifan siswa
itu sendiri untuk menalar,
c. Pelajar aktif
mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep
yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiyah,
d. pembelajar sekedar
membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar pross konstruksi
pebelajar berlangsung secara efektif dan efesien.
Implikasi
prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa
mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar,
melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pebelajar membangun sendiri
pengetahuannya sendiri. Mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam
membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan
mengadakan justifikasi.
2. Karakteristik
Konstruktivis dalam pembelajaran
a. Top Down Prosessing
Pendekatan
konstruktivis pada pembelajaran menekankan top-down dari pada pembelajaran
button-up. Top-down berarti pebelajar belajar dimulai dari permasalahan yang
kompleks, sedangkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan
permasalahan yang dipelajari, dicari dan ditemukan selama terjadi upaya
pemecahan masalah. Misalnya, dalam belajar mengarang, pebelajar diminta untuk
menyusun karangan, sedang tata tulis, gramatika, dan lain-lain dipelajari
sambil menyusun karangan. Sedangkan dalam pendekatan tradisional, button-up
mengajar perkalian dua digit (misalnya 4 x 2 = 48) mengajar pebelajar dengan prosedur langkah demi
langkah untuk mendapatkan jawaban yang benar. Setelah pebelajar menguasai
keterampilan dasar ini, kemudian diberi penerapan dengan problem sederhana.
b. Menekankan pada sifat
belajar sosial
Berdasarkan
pandangan ini, pebelajar akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep
yang sulit jika mereka dapat berbicara dengan teman lain mengetani problemnya.
Tidak satupun dapat memecahkan masalah sendiri, kerja kelompok membantu
pebelajar pada satu pemecahan, yang lebih penting pengalaman mendengar ide
orang lain, mencoba dan selanjutnya menerima balikan untuk pemecahan. Pebelajar
bekerja secara rutin berpasangan atau kelompok untuk saling menolong memecahkan
problemnya yang kompleks. Penekanan pada strategi belajar kerja sama yang
ekstensif, menggunakan kelompok sebaya kea rah model menghargai cara berpikir,
dan mengutarakan pendapat yang lain merupakan elemen kunci dari konsep pieget
mengenai perkembangan kognitif.
c. Generative Learning
Asumsi poko
dari pendekatan konstruktivis adalah semua belajar merupakan “penemuan”; bahkan
jika kita bercerita sesuatu ke pebelajar, mereka harus melakukan aktivitas
mental melalui informasi untuk menjadi miliknya. Generative Learning, merupakan
teori yang menekankan integrasi aktif dari materi baru dengan skemata yang ada.
Contoh, pebelajar telah berhasil diajari untuk memperbaiki pertanyaan mereka
sendiri, merangkum, dan analogi mengenai materi yang telah mereka baca .
E.
Model Pembelajaran
Konstruktivistik
1. Discovery Learning
Dalam model ini, siswa didorong untuk belajar sendiri,
belajar aktif melalui konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan guru sebagai
motivatornya. Pertama, guru mengidentifikasi kurikulum. Selanjutnya memandu
pertanyaan, menyuguhkan teka-teki, dan menguraikan berbagai permasalahan.
Kedua, pertanyaan yang fokus harus dipilih untuk memandu siswa ke arah
pemahaman yang bermakna. Siswa lalu memformulasikan jawaban sementara
(hipotesis). Ketiga, mengumpulkan data dari berbagai sumber yang relevan, dan
menguji hipotesis. Keempat, siswa membentuk konsep dan prinsip. Kelima, guru
memandu proses berfikir dan diskusi siswa, untuk mengambil keputusan. Keenam,
merefleksikan pada masalah nyata dan mengolah pemikiran guna menyelesaikan
masalah.
Proses ini mengajarkan siswa untuk memahami isi dan
proses dalam waktu yang bersamaan. Dengan kata lain, siswa belajar
menyelesaikan masalah, mengevaluasi solusi, dan berfikir logis.
Ada
beberapa sasaran berkaitan dengan pembelajaran discovery
a.
Hendaknya mendorong interpretasi
informasi dengan memberikan pertanyaan pengarah
b.
Hendaknya menggunakan materi dan
permainan
c.
Hendaknya mampu menumbuhkan resa
ingin tahu murid walaupun kadang-kdang melenceng dari pelajaran
d.
Hendaknya menggunakan
contoh-contoh yang kontras.
2. Expository Learning
Konsep
pembelajaran ini sebenarnya berawal dari konsep teori belajar penerimaan (reception
learning) yang diperkenalkan oleh Ausubel. Yang mana guru menyajikan materi
yang diorganisasi, diurutkan, dan ditata sesuai struktur kognitif pebelajar.
Ini disadari bahwa belajar terjadi secara deduktif, bukan induktif, dari umum
kekhusus. Pandangan Ausubel tentang pembelajaran didasarkan pada pandangan
kognitif.
a. Input belajar adalah
penting
b. Materi belajar harus
diorganisasi
c. Ide dan konsep baru
mesti potentially meaningful terhadap pebelajar
d. Pembuatan
jangkar/jembatan konsep baru dengan struktur kognitif yang sudah ada membantu
membuat konsep baru bisa dan gampang diingat.
Makna/meaning,
bagi Ausubel adalah sebuah fenomina kesenjangan dan bukan prilaku. Penelitian
menunjukkan bahwa verbal learning lebih efektif untuk belajar dan
retensi.
Ekspositoru
memiliki 3 tahap prinsip pembelajaran.
a. Penyajian advance
organizer
b. Penyajian tugas belajar
atau materi
c. Memperkuat organisasi
kognitif
Ada persamaan umum yang bisa ditulis antara discovery
learning Bruner dengan ekspository learning Ausubel (Slavin, 1994; Joyce and
Weil, 1996)
a. Keduanya memerlukan
keaktifan murid untuk terlibat dalam proses belajar
b. Keduanya menekankan
cara membawa pengetahuan awal murid untuk menangkap materi baru
c. Keduanya menganggap
bahwa pengetahuan secara terus menerus berubah dalam pandangan murid.
3. Pembelajaran
Berbasis Masalah
Dalam model ini, siswa dihadapkan pada masalah nyata
yang bermakna untuk mereka. Persoalan sesungguhnya dari pembelajaran berbasis
masalah adalah menyangkut masalah nyata, aksi siswa, dan kolaborasi diantara
mereka untuk menyelesaikan masalah. Pertama, guru memotivasi diri siswa, dan
mengarahkannya kepada permasalahan. Kedua, guru membantu siswa dengan memberi
petunjuk tentang literatur yang terkait masalah, dan mengorganisirnya untuk
belajar dengan membuat kelompok kerja.
Ketiga, guru menyemangati siswa untuk mencari lebih
banyak literatur, melakukan percobaan, membuat penjelasan untuk menemukan
solusi. Setelah itu, secara mandiri, kelompok kerja siswa melakukan
penyelidikkan. Keempat, kelompok kerja siswa mempresentasikan hasil temuannya,
baik itu berupa laporan, video, model, dan dibantu guru dalam mendiskusikannya.
Kelima, kelompok kerja siswa menganalisis, dan mengevaluasi proses penyelesaian
masalah. Pada bagian ini pula, guru membantu siswa dalam merefleksikannya.
Pada model ini, guru dan siswa bersama-sama dalam
proses, sesuai dengan porsinya. Mereka bersama-sama untuk mengkaji, membaca,
menulis, meneliti, berbicara, guna menuju pada penyelesaian masalah selayaknya
dalam kehidupan yang nyata.
Tidak ada satupun teori tunggal konstruktivisme,
begitupula tidak ada satu-satunya model pembelajaran sebagai penerapan
konstruktivisme. Walaupun demikian banyak dari kaum konstruktivis,
merekomendasikan kepada pendidik bahwa :
Pembelajaran melekat dalam lingkungan belajar yang
kompleks, realistis, dan relevan. Menyediakan negosiasi sosial, dan
tanggungjawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran. Mendukung pandangan
beragam dan menggunakan representasi yang juga beragam terhadap isi yang
dipelajari. Meningkatkan kesadaran diri dan pengertian bahwa pengetahuan itu
dibangun, dan Mendorong kesadaran dalam pembelajaran.