26 Desember 2011

Konstruktivisme dan Pembelajaran


KONSTRUKTIVISME DAN PEMBELAJARAN
Oleh: Taufikurrahman, M.Pd.I

A.    KONSTRUKTIVISME
Konstruktivisme berfokus pada: bagaimana orang menyusun arti, baik dari sudut pandang mereka sendiri, maupun dari interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain, individu-individu membangun struktur kognitif mereka sendiri, persis seperti mereka mengintepretasikan pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu. Pandangan ini didasari oleh penelitian Piaget, Vygotsky, psikologi Gestalt, Bartlett, dan Brunner.
Satu cara untuk mendapatkan intisari pandangan konstruktivisme adalah membahas dua bentuknya, yaitu konstruktivisme individu dan sosial.
1.      Konstruktivisme Individu
Pandangan ini fokus pada kehidupan “inner psikologi” manusia, yakni mengartikan sesuatu dengan menggunakan pengatahuan dan keyakinannya secara individu. Pengetahuan disusun dengan mentransformasikan, mengorganisasi, dan mereorganisasikan pengetahuan yang sebelumnya. Pengetahuan bukan merupakan cermin dari luar, walaupun pengalaman mempengaruhi pemikiran, dan pemikiran mempengaruhi pengetahuan.
Eksplorasi dan penemuan, jauh lebih penting dari pengajaran. Piaget menekankan pada hal-hal yang masuk akal dan konstruksi pengetahuan yang tidak bias secara langsung dipelajari dari lingkungan. Pengetahuan muncul dari merefleksikan dan menghubungkan kognisi atau pikiran-pikiran kita sendiri, bukan dari pemetaan realitas eksternal. Piaget melihat lingkungan sosial sebagai sebuah faktor penting dalam pengembangan kognisi, tapi dia tidak meyakini bahwa interaksi sosial merupakan mekanisme utama dalam mengubah pikiran.
2.      Konstruktivisme Sosial
Vygotsky meyakini, bahwa interaksi sosial, unsur-unsur budaya, dan aktivitasnya adalah yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu. Atau dengan kata lain, pengetahuan disusun berdasarkan interaksi sosial dalam konteks sosialbudayanya. Pengetahuan merefleksikan dunia luar yang disaring dan dipengaruhi oleh budaya, bahasa, keyakinan, interaksi antar sesama, pengajaran klasikal, dan role modeling.
Penemuan yang terencana, pengajaran, model dan pelatihan, seperti juga pengetahuan, keyakinan dan pemikiran siswa, mempengaruhi pembelajaran. Vygotsky juga dianggap sebagai konstruktivis sosial, sekaligus individu. Yang pertama, disebabkan teorinya sangat bergantung kepada interaksi sosial dan konteks budaya dalam menjelaskan pembelajaran. Beberapa teoritikus mengkategorikannya sebagai konstruktivis individu, karena ketertarikannya dalam pengembangan individu.

B.     DIMENSI-DIMENSI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
1.      Lingkungan Belajar yang Kompleks dan Tugas-tugas Otentik
Siswa tidak boleh diberikan bagian-bagian yang terpisah, penyederhanaan masalah, dan pengulangan keterampilan dasar, tetapi sebaliknya: siswa dihadapakan pada lingkungan belajar yang kompleks, terlihat samar-samar, dan masalah yang tidak beraturan.
Masalah-masalah yang kompleks itu harus dihubungkan pada aktivitas dan tugas yang otentik, karena keberagaman situasi yang siswa hadapi tersebut, seperti juga aplikasi yang mereka hadapi tentang dunia nyata.
2.      Negosiasi Sosial
Tujuan utama pembelajaran adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam membangun serta mempertahankan posisi mereka, dan disaat bersamaan menghormati posisi orang lain dan bekerjasama untuk berdiskusi atau membangun pengertian bersama-sama. Guna mnyelesaikan perpaduan ini, haruslah berbicara dan mendengarkan satu sama lain. Dengan kata lain, proses mental ini melalui negosiasi sosial dan interaksi, sehingga kolaborasi dalam pembelajaran dapat dimungkinkan, yakni melahirkan sebuah sikap intersubyektif – sebuah komitmen untuk membangun keragaman pengertian dan menemukan kesamaan umum serta perpaduan penafsiran.

3.      Keragaman Pandangan dan Representasi Bahasan
Acuan-acuan untuk pembelajaran harus sudah dapat memfasilitasi representasi beragam bahasan dengan menggunakan analogi contoh dan metafora yang berbeda. Peninjauan materi yang sama, pada waktu yang berbeda-beda dalam penyusunan kembali konteks untuk tujuan yang berbeda, dan dari pandangan konseptual yang berbeda adalah penting untuk mencapai tujuan kemampuan pengetahuan yang lebih maju.
4.      Proses Konstruksi Pengetahuan
Pendekatan konstruktivisme mengedepankan untuk membuat siswa peduli pada peran mereka dalam membangun pengetahuan. Asumsinya adalah keyakinan dan pengalaman individu, membentuk apa yang dikenal sebagai dunia. Asumsi dan pengalaman berbeda, mengarahkan kepada pengetahuan yang berbeda pula. Apabila siswa peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang membentuk pola pikir mereka, maka mereka akan lebih mampu untuk memilih, mengembangkan, dan memanfaatkan posisi dengan cara introspeksi diri, pada saat yang bersamaan menghormati posisi orang lain.
5.      Pembelajaran Siswa Terhadap Kesadaran Dalam Belajar
Fokus dalam proses ini adalah menempatkan berbagai usaha siswa untuk memahami pembentukan pembelajaran dalam pendidikan. Kesadaran yang timbul pada diri siswa, bukan berarti guru melonggarkan tanggungjawabnya untuk memberikan pengarahan atau bimbingan.

C.    Unsur-unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis
Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
1.      Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
2.      Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan seharihari, dan juga penerapan konsep.
3.      Adanya lingkungan sosial yang kondusif,
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
4.      Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.
5.      Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.

D.    Prinsip dan Karakteristik Belajar Konstruktivis
1.      Prinsip-prinsip konstruktivisme dalam belajar
Suparno (1997) mengidentifikasi 4 prinsip kondtruktivis dalam belajar yakni :
a.       Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial,
b.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pembelajar kepada pebelajar, kecuali dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar,
c.       Pelajar aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiyah,
d.      pembelajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar pross konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efesien.
Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pebelajar membangun sendiri pengetahuannya sendiri. Mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
2.      Karakteristik Konstruktivis dalam pembelajaran
a.       Top Down Prosessing
Pendekatan konstruktivis pada pembelajaran menekankan top-down dari pada pembelajaran button-up. Top-down berarti pebelajar belajar dimulai dari permasalahan yang kompleks, sedangkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang dipelajari, dicari dan ditemukan selama terjadi upaya pemecahan masalah. Misalnya, dalam belajar mengarang, pebelajar diminta untuk menyusun karangan, sedang tata tulis, gramatika, dan lain-lain dipelajari sambil menyusun karangan. Sedangkan dalam pendekatan tradisional, button-up mengajar perkalian dua digit (misalnya 4 x 2 = 48) mengajar  pebelajar dengan prosedur langkah demi langkah untuk mendapatkan jawaban yang benar. Setelah pebelajar menguasai keterampilan dasar ini, kemudian diberi penerapan dengan problem sederhana.


b.      Menekankan pada sifat belajar sosial
Berdasarkan pandangan ini, pebelajar akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka dapat berbicara dengan teman lain mengetani problemnya. Tidak satupun dapat memecahkan masalah sendiri, kerja kelompok membantu pebelajar pada satu pemecahan, yang lebih penting pengalaman mendengar ide orang lain, mencoba dan selanjutnya menerima balikan untuk pemecahan. Pebelajar bekerja secara rutin berpasangan atau kelompok untuk saling menolong memecahkan problemnya yang kompleks. Penekanan pada strategi belajar kerja sama yang ekstensif, menggunakan kelompok sebaya kea rah model menghargai cara berpikir, dan mengutarakan pendapat yang lain merupakan elemen kunci dari konsep pieget mengenai perkembangan kognitif.
c.       Generative Learning
Asumsi poko dari pendekatan konstruktivis adalah semua belajar merupakan “penemuan”; bahkan jika kita bercerita sesuatu ke pebelajar, mereka harus melakukan aktivitas mental melalui informasi untuk menjadi miliknya. Generative Learning, merupakan teori yang menekankan integrasi aktif dari materi baru dengan skemata yang ada. Contoh, pebelajar telah berhasil diajari untuk memperbaiki pertanyaan mereka sendiri, merangkum, dan analogi mengenai materi yang telah mereka baca      .

E.     Model Pembelajaran Konstruktivistik
1.      Discovery Learning
Dalam model ini, siswa didorong untuk belajar sendiri, belajar aktif melalui konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan guru sebagai motivatornya. Pertama, guru mengidentifikasi kurikulum. Selanjutnya memandu pertanyaan, menyuguhkan teka-teki, dan menguraikan berbagai permasalahan. Kedua, pertanyaan yang fokus harus dipilih untuk memandu siswa ke arah pemahaman yang bermakna. Siswa lalu memformulasikan jawaban sementara (hipotesis). Ketiga, mengumpulkan data dari berbagai sumber yang relevan, dan menguji hipotesis. Keempat, siswa membentuk konsep dan prinsip. Kelima, guru memandu proses berfikir dan diskusi siswa, untuk mengambil keputusan. Keenam, merefleksikan pada masalah nyata dan mengolah pemikiran guna menyelesaikan masalah.
Proses ini mengajarkan siswa untuk memahami isi dan proses dalam waktu yang bersamaan. Dengan kata lain, siswa belajar menyelesaikan masalah, mengevaluasi solusi, dan berfikir logis.
Ada beberapa sasaran berkaitan dengan pembelajaran discovery
a.       Hendaknya mendorong interpretasi informasi dengan memberikan pertanyaan pengarah
b.      Hendaknya menggunakan materi dan permainan
c.       Hendaknya mampu menumbuhkan resa ingin tahu murid walaupun kadang-kdang melenceng dari pelajaran
d.      Hendaknya menggunakan contoh-contoh yang kontras.
2.      Expository Learning
Konsep pembelajaran ini sebenarnya berawal dari konsep teori belajar penerimaan (reception learning) yang diperkenalkan oleh Ausubel. Yang mana guru menyajikan materi yang diorganisasi, diurutkan, dan ditata sesuai struktur kognitif pebelajar. Ini disadari bahwa belajar terjadi secara deduktif, bukan induktif, dari umum kekhusus. Pandangan Ausubel tentang pembelajaran didasarkan pada pandangan kognitif.
a.       Input belajar adalah penting
b.      Materi belajar harus diorganisasi
c.       Ide dan konsep baru mesti potentially meaningful terhadap pebelajar
d.      Pembuatan jangkar/jembatan konsep baru dengan struktur kognitif yang sudah ada membantu membuat konsep baru bisa dan gampang diingat.
Makna/meaning, bagi Ausubel adalah sebuah fenomina kesenjangan dan bukan prilaku. Penelitian menunjukkan bahwa verbal learning lebih efektif untuk belajar dan retensi.

Ekspositoru memiliki 3 tahap prinsip pembelajaran.
a.       Penyajian advance organizer
b.      Penyajian tugas belajar atau materi
c.       Memperkuat organisasi kognitif
Ada persamaan umum yang bisa ditulis antara discovery learning Bruner dengan ekspository learning Ausubel (Slavin, 1994; Joyce and Weil, 1996)
a.       Keduanya memerlukan keaktifan murid untuk terlibat dalam proses belajar
b.      Keduanya menekankan cara membawa pengetahuan awal murid untuk menangkap materi baru
c.       Keduanya menganggap bahwa pengetahuan secara terus menerus berubah dalam pandangan murid.
3.      Pembelajaran Berbasis Masalah
Dalam model ini, siswa dihadapkan pada masalah nyata yang bermakna untuk mereka. Persoalan sesungguhnya dari pembelajaran berbasis masalah adalah menyangkut masalah nyata, aksi siswa, dan kolaborasi diantara mereka untuk menyelesaikan masalah. Pertama, guru memotivasi diri siswa, dan mengarahkannya kepada permasalahan. Kedua, guru membantu siswa dengan memberi petunjuk tentang literatur yang terkait masalah, dan mengorganisirnya untuk belajar dengan membuat kelompok kerja.
Ketiga, guru menyemangati siswa untuk mencari lebih banyak literatur, melakukan percobaan, membuat penjelasan untuk menemukan solusi. Setelah itu, secara mandiri, kelompok kerja siswa melakukan penyelidikkan. Keempat, kelompok kerja siswa mempresentasikan hasil temuannya, baik itu berupa laporan, video, model, dan dibantu guru dalam mendiskusikannya. Kelima, kelompok kerja siswa menganalisis, dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Pada bagian ini pula, guru membantu siswa dalam merefleksikannya.
Pada model ini, guru dan siswa bersama-sama dalam proses, sesuai dengan porsinya. Mereka bersama-sama untuk mengkaji, membaca, menulis, meneliti, berbicara, guna menuju pada penyelesaian masalah selayaknya dalam kehidupan yang nyata.
Tidak ada satupun teori tunggal konstruktivisme, begitupula tidak ada satu-satunya model pembelajaran sebagai penerapan konstruktivisme. Walaupun demikian banyak dari kaum konstruktivis, merekomendasikan kepada pendidik bahwa :
Pembelajaran melekat dalam lingkungan belajar yang kompleks, realistis, dan relevan. Menyediakan negosiasi sosial, dan tanggungjawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran. Mendukung pandangan beragam dan menggunakan representasi yang juga beragam terhadap isi yang dipelajari. Meningkatkan kesadaran diri dan pengertian bahwa pengetahuan itu dibangun, dan Mendorong kesadaran dalam pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar