22 Desember 2011

Hermeneutika Model Fazlur Rahma


HERMENEUTIKA MODEL FAZLUR RAHMAN
Oleh: Taufikurrahman, M.P.d.I

Pendahuluan
a.      Riwayat Hidup Fazlurrahman  dan pola pemikirannya
Fazlur Rahman tokoh pemikir Islam modern yang lahir pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Yaitu ditengah-tengah keluarga Malak letaknya di Hazara sebelum terpencahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan. Ayahnya bernama Maulana Shihabuddin, beliau alumni Sekolah Menengah terkemuka yaitu Darul Ulum Deoban sebuah lembaga yang mengkaji tentang pemahaman islam salafi yang fukus pada Fikih, Ilmu Kalam, Hadis, Tafsir, dan yang lainnya, walaupun Fazlurrahman tidak belajar  ilmu tersebut di lenbaga Darul Ulum akan tetapi dia langsung mendapatkan kajian privat dari ayahnya sebab ayahnya seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua Indo-Pakistan. Serta keluarganya bermadzhab Hanafi, suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya.
Pada tahun 1942, Fazlur Rahman mendapat gelar M.A dalam sastra Arab di Universitas Punjab, pada 1946 kuliah di Oxford University, dan meraih gelar doktor filsafat (Ph.D) pada tahun 1951, kemudian mengajar beberapa saat di Universitas Durham.   Setelah itu dia bekerja pada Institute of Islamic Studies Mc. Gill University Kanada sebagai associate professor of philosophy. ia menguasai banyak bahasa: bahasa  Latin, Yunani, Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Persia, Arab dan Urdu. Setelah beberapa tahun mengembara di negri Barat Rahman kembali ke negrinya di Pakistan, pada waktu itu Pakistan sedang di landa perdebatan sengit antara berbagai kelompok Islam –Konservatif, modernis dan Sekuler dalam menentukan struktur Islam yang relevan untuk Islam Pakistan, nah pada waktu itu Rahman terlibat secara Intensif dalam kontroversi dalam rangka turut memberikan definisi Ideologis bagi Pakistan sebagai Negara Islam. Melalui kariernya sebagai direktur pada Institute of Islamic Reseach pada tahun 1962, Rahman leluasa mengepakkan sayapnya dalam melanjutkan Visi dan Misinya, sampai dua tahu kemudian (1964) Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam. Pada  kondisi strategis itu Rahman memamfaatkan term-term pembaharuan dengan disambut oleh kelompok modernis, sehingga seringkali bertentangan dengan opini-opini kelompok kalangan tradisional fundamintalis, sehingga mencapai pada puncak tantangan yang bertubi-tubi ketika Rahman meluncurkan karya ilmiyahnya dengan berbahasa Urdun Fikr-u-Nazhr pada tahun 1967. Dalam karangannya menyatakan bahwa “Al-Quran itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad” pernyataan tersebut membuat heboh masyarakat Pakistan terutama kalangan Fundamentalis Konservatif seperti Al-bayyinat, bahkan mereka telah memberikan keputusan dengan mengklaim sebagai “pengingkar Al-Quran” dan kontroversi itu lebih memanas dan meledak dalam demonstrasi Massa dan aksi mogok total yang dilakukan oleh elemen masyarakat mulai mahasiswa sampai sopir taxi demonstrasi tersebut terjadi pada awal 1968.
Pada 1969. Ia memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam di segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Sebagai guru besar dia mengajar mata kuliah pemahaman Al-Quran, Filsafat Islam, selain itu juga sering mengisi kajian islam pada seminar internasional bahkan beliau juga pernah datang ke Indonesia bersama Prof. Sherif Mardin dari Istambul pada tahun 1985 untuk meninjau dan memberikan Advise (kabar) terhadap penyelenggara tinggi islam di bawah naungan Departemen Agama.
Pemahaman penyusun yang terbatas mencoba membahas tentang pemikiran dan sumbangannya, Makalah  ini  merupakan  pembahasan  khusus  terhadap  tokoh  Islam modern diantara yang  paling awal  mempolopori  corak  tafsir  Hermeneutik dinamis  bagi  membuka  ruang  ijtihad  semasa  dan memecahkan  kemandekan  pemikiran  Islam kontemporer.  Tokoh  yang  dimaksudkan  ialah Fazlur  Rahman, seorang sarjana dan ilmuwan dari Pakistan yang kemudian menetap di Amerika Syarikat. Dilahirkan pada tahun 1919 di daerah Barat Laut Pakistan, beliau pernah menjadi  profesor  di  Universiti  Chicago  sehingga  akhir  hayatnya  pada  tahun  1998  akibat komplikasi pembedahan jantung. Menurut para sarjana dunia Islam maupun Barat,  Fazlur Rahman merupakan salah satu pemikir Islam terpenting di abad ke-20.
b.      Karya-karya Fazlurrahman
Dari Akumulasi latar belakang Pendidikan yang berbeda antara timur dan barat tampaknya akan sangat mempengaruhi gaya berfikir dan solusi yang ditawarkan dalam menyikapi persoalan yang berkembang ditengah masyarakat muslim. Hal tersebut dilatarbelakangi ketika Rahman memfokuskan kajiannya pada Filsafat dan Teologi yang mengacu pada sumber islam klasik sehingga dapat membuahkan karya yang berjudul Avicenna’s Psychology Prophecy in Islam, pada karangan tersebut memaparkan analisisnya seobyektif mungkin, dan tidak menimbulkan kecendrungan apologi (pembelaan maaf)  yang bersifat pribadi. Juga karangan beliau adalah Prophecy in Islam : Philosophy and Orthodoxy dan masih ada karangan lainnya.
1.      Persoalan Pendekatan dan Pemahaman al-Qur’an
Persoalan Al-qur’an menurut Fazlur Rahman, adalah persoalan kaedah dan pemahaman (method and hermeneutics) terhadap  al-Qur’an yang belum pernah  dibicarakan  dengan tuntas  di  dalam tradisi  Islam dan merupakan perkara yang mendesak. Corak penafsiran yang diwarisi dari tradisi keIslaman zaman klasik telah gagal memaparkan pesan-pesan al-Qur’an secara berpadu.  Akibat  dari  kaedah  yang  menafsirkan  ayat  demi  ayat,  serta kecenderungan  terhadap  penggunaan  ayat-ayat  al-Qur’an  secara  atomistik,  para  mufassirun dan  umat  Islam umumnya  tidak  dapat  menangkap  keterpaduan  pesan  al-Qur’an  yang dilandaskan suatu weltanschauung (pandangan dunia atau worldview) yang pasti.
Fazlur Rahman  selanjutnya  mengkritik  kecenderungan  menafsir  dan  memperlakukan  ayat-ayat al-Qur’an secara sepotong-sepotong dan tidak menentu (piecemeal and ad-hoc), yang hingga kini, masih berlanjutan. Dengan perubahan sosial dan masukan  ide-ide  baru yang berasal dari Barat, setengah pemikir Islam cenderung mencari-cari dan menggunakan ayat-ayat Al-Qu’ran yang  dapat  menjustifikasikan  posisi  mereka sama  kuat  untuk  mempertahankan  konsep-konsep dan institusi-institusi yang terbit dari Barat, maupun menolak penerimaannya.
Di  dalam  latar  pemikiran  apologetik  sebeginilah  Fazlur  Rahman  mengusulkan diwujudkan  suatu  kaedah  hermeneutika  yang  lebih  mantap.  Sumbangannya  yang  paling bermakna ke arah proses ini ialah dengan pengusulan teori ‘gerakan ganda’ (double movement) yang  kini  menjadi  landasan  bagi  penafsiran-penafsiran  baru  yang  bersifat  kontekstual  dan dinamis.
Menurut Fazlur Rahman, pemahaman tepat pada pesan al-Qur’an dapat dipisahkan daripada keimanan itu sendiri, meskipun kita tidak boleh menafikan pemahaman boleh mendatangkan keimanan dan keimanan juga boleh dan sepatutnya membenihkan pemahaman yang tepat.
Implikasi dari perbedaan yang dibuat oleh Fazlur Rahman antara pendekatan pure cognitive dan emotive-faith  ini  memberi  ruang  pada  penafsiran-penafsiran  al-Qur’an  yang  berlandaskan kajian-kajian  sejarah  dan  ilmiah.  Oleh  kerana  pendekatan  terhadap  al-Qur’an  selama  ini bersifat  atomistik  dan  ahistorikal,  Fazlur  haruslah  membangunkan  justifikasi  yang  kuat mengapa  pendekatan  historikal  itu  merupakan  kemestian  dan,  lebih  penting  lagi,  mengapa suatu  kaedah  yang  legitimat  dari  sisi  epistemologi  pewahyuan.  Perkara  yang terakhir ini dapat kita tinjau melalui nisbah antara wahyu dan penerima (Nabi Muhammad), dan juga duduk perkara pewahyuan itu sendiri (nature of revelation). 
Berikut, kita akan membincarakan tentang
a.       pemahaman  Fazlur Rahman  terhadap proses pewahyuan dari kata-kata Tuhan (transendental) kepada ucapan dan teks (temporal);
b.      teori double-movement  di  dalam  rangka  mendekati  dan  menggali  pesan-pesan  al-Qur’an; 
c.       keobjektifan  sejarah  dalam penggunaan  hermeneutika; 
2.      Teori Pewahyuan dan Ruang Temporal 
Di  dalam rangka  pemahaman  ortodoks,  proses  pewahyuan  merupakan  suatu  imlak (dictation)  antara  outhor (Tuhan) dan  penerima  (Nabi  Muhammad)  melalui  perantaraan  (malaikat Jibril).  Dalam arti  kata  lain,  sang  penerima  seringkali  dipaparkan  seperti  sebuah  perakam suara  (tape  recorder)  yang  memainkan  semula  segala  apa  yang  ditransmisikan  secara  mekanis (yaitu, menjadi teks). Ini bermakna peranan dan konteks penerima itu seringkali tidak diberi perhatian sehingga wahyu-teks itu dilihat sebagai sesuatu yang berada, secara keseluruhannya, di luar ruang spatio-temporal.
Pemahaman  ortodoks  seperti ini,  sebagaimana  yang  dikritik  Fazlur  Rahman, sememangnya kurang lengkap karena aspek temporal wahyu-teks tidak difikirkan langsung. Hasilnya,  wahyu-teks  itu  mempunyai  komponen  temporal  karena  wujud  di  ruang  yang semestinya temporal dan berubah-ubah. Oleh itu, proses pewahyuan itu lebih kompleks dari apa  yang  digambarkan  oleh  kelompok  ortodoks.  Mungkin  inilah  yang  menyebabkan timbulnya  pendekatan  yang  ahistorikal  dalam menafsir  atau  mempergunakan  ayat-ayat  al-Qur’an. Seperti yang diperhatikan Ebrahim Moosa, persoalaan “interface of revelation with the world” begitu penting sekiranya sejarah ingin berperan di dalam memahami wahyu yang bersifat transendental.
Jika  diperhatikan,  penekanan  pada  aspek  sosio-historikal  teks  al-Qur’an  ini merupakan  salah  satu  ciri  utama  gerakan  neomodernisme  di  mana  Fazlur  Rahman merupakan  salah  seorang  pengggagas  utamanya.  Aspek  sosio-historikal  ini  bukan  hanya mencakupi situasi turunnya sesuatu ayat (asbab al-nuzul) tetapi, sebagaimana digambarkan oleh Nurcholish  Madjid,  merangkumi  pemahaman  pada  konteks  budaya  Arab  secara keseluruhannya pada zaman turunnya wahyu (al-Qur’an).
Berbalik  pada  penolakan  terhadap  pemahaman  naif  kelompok  ortodoks,  Fazlur Rahman menekankan bahwa al-Qur’an itu sendiri tidak menggambarkan wahyu sebagai sesuatu yang bersifat eksternal sepenuhnya dari diri Nabi Muhammad itu sendiri. Al-Qur’an menjelaskan: “Ia  [al-Qur’an]  dibawa  turun  oleh  al-Ruh  al-Amin  [malaikat  Jibril  yang  amanah]  ke  dalam hatimu {Muhammad.SAW}”  dan  juga  “maka  Jibril  itu  telah  menurunkannya  [al-Qur’an]  ke  dalam hatimu dengan seizin Allah.”
Kritik  Rahman  terhadap  pemahaman  ortodoks  dan  pemahamannya  terhadap pergelutan komponen transendental dan temporal di dalam proses pewahyuan seharusnya merupakan  titik-tolak  pergeserannya  dengan  kelompok  ulama  konservatif,  terutamanya  di Pakistan  sewaktu  dia  menjabat  jawatan  Pengarah  Lembaga  Penelitian  Islam. Walaupun memformulasikan teori pewahyuannya bukanlah sesuatu yang menyimpang dari tradisi intelektual Islam (teori ini pernah diungkapkan oleh Syeah Wali Allah dan Muhammad Iqbal), Fazlur Rahman sering  disalah-artikan  sebagai orang yang mengatakan  al-Qur’an  itu  ciptaan  Muhammad.  padahal, Fazlur Rahman secara terang-terangan mengatakan:
“Setiap Muslim sejak datangnya Islam telah meyakini, dan harus meyakini, bahwa al-Qur’an merupakan  Kalam  Allah  yang  diwahyukan  kepada  Nabi  Muhammad.  Tanpa  kepercayaan teramat  penting  ini,  tidak  satu  pun  yang  bahkan  dapat  menjadi  seorang  Muslim  nominal (hanya dalam sebutan).” Menurut Abd  A’la pula,  teori pewahyuan  Rahman  juga dipengaruhi  oleh pendapat al-Ghazali  yang  membedakan kalam Allah (al-Qur’an yang sebenarnya) dan mushaf (teks al-Qur’an secara fizikal) itu sendiri. A’la menulis:
“Pengaruh  al-Ghazali  terhadap  Fazlur  Rahman  juga  tampak  ketika  al-Ghazali  berupaya menjelaskan  hubungan  kalam  Allah  dengan  al-Qur’an.  Untuk  ini,  ia  membedakan  antara bacaan (qira’ah), yang dibaca (maqru’), dan al-Qur’an. Bacaan adalah perbuatan yang bersifat inderawi  yang  dilakukan  pembaca  dalam  waktu-waktu  tertentu.  Oleh  kerana  itu,  bacaan adalah baru. Sedang “yang dibaca” adalah Kalam Allah yang qadim yang terdapat pada zat-Nya. Apa yang dibaca adalah searti dengan al-Qur’an. “Apa yang dibaca” dalam pandangan al-Ghazali  adalah  sesuatu  yang  terdapat  di  balik  bacaan,  bukan  mushhaf  itu  sendiri.”
Selanjutnya,  kita  akan  melihat  secara  khusus  sumbangan  Fazlur Rahman  dalam  bidang metodologi  penafsiran  al-Qur’an  kontemporer  dan  usulan  pendekatan  hermeneutika  al-Qur’an.
3.      Teori Gerakan Ganda (Double Movement)
Antara sumbangan terpenting Fazlur Rahman di dalam bidang kajian al-Qur’an ialah usulan teori ‘gerakan ganda’ (double movement) yang begitu berpengaruh melahirkan tafsir-tafsir kontekstual, terutamanya di dalam bidang hukum. 
Pertama  sekali,  Fazlur  Rahman  mendefinisikan  al-Qur’an  sebagai  respons  Tuhan, melalui Nabi Muhammad selaku wadah, terhadap kondisi moral dan sosial masyarakat Arab waktu  itu. “The Qu’ran is a divine response, through the Prophet’s mind, to the moral-social situation of the Prophet’s Arabia.”  Oleh  itu,  al-Qur’an  itu  tidak  terlepas  dari  konteks  sosial  dan  sejarah. 
Di  dalam rangka  pemahaman  historis  terhadap  al-Qur’an,  Fazlur  Rahman mengetengahkan  tentang  teori  ‘gerakan  ganda’-nya.  Di  sini,  Fazlur  Rahman  menjelaskan ‘gerakan ganda’ sebagai langkah menyelusuri dari situasi saat ini kepada situasi pewahyuan, dan kemudian kembali dari lampau kepada masa kini.
a.       Dari situasi kini kepada situasi pewahyuan, Di  dalam  gerakan  kembali  pada  konteks  al-Qur’an  sewaktu  ia  diturunkan,  ada  dua langkah  yang  diperlukan.  Pertama,  sang  penafsir  harus  memahami  makna  yang benar sesuatu ayat dengan mengkaji latar sejarah atau persoalan yang menyentuh sebab ayat itu diturunkan. Di dalam rangka ini, kajian umum terhadap situasi makro kehidupan sosial Arab menjelang dan sekitar penurunan wahyu, harus dilaksanakan.   Kedua,  sang  penafsir  harus  pula  menggarap  prinsip-prinsip  dasar  dari  ayat-ayat  yang menyentuh  persoalan-persoalan  khusus  itu,  dalam arti  kata  tujuan  sosio-moral dibalik setiap ayat.  Di  dalam kedua-dua  proses  ini,  semangat  (élan)  ajaran  al-Qur’an  secara  keseluruhan haruslah diambil kiranya, demi menjaga keutuhan pesan yang cuba diketengahkan melalui wahyu itu.
b.      Dari konteks pewahyuan kepada konteks masakini, Dengan  prinsip-prinsip  dasar  yang  digarap  dari  ayat-ayat  spesifik  itu,  sang  penafsir haruslah  memaknakan  ayat-ayat  itu  kembali  dan  mengaplikasikannya  pada  konteks dan situasi sosial masa kini. Langkah ini juga memerlukan penelitian secukupnya akan kondisi  masa  kini  supaya  prinsip-prinsip  al-Qur’an  dapat  diterapkan  sesuai  dengan keperluan masyarakat.
Dengan pergerakan berganda sebegini di dalam penafsiran teks, Fazlur Rahman yakin ijtihad  dapat  diberi  nafas  baru.  Sekiranya  pergerakan  ini  berjaya  dilakukan,  pesan-pesan al-Qur’an dapat ‘hidup’ dan menjadi efektif sekali lagi.
Pergerakan berganda seperti yang dikemukan oleh Fazlur Rahman memang berkesan di  dalam mengaitkan  kerelevanan  teks  al-Qur’an  pada  konteks  kini,  terutamanya  di  dalam rangka  penafsiran  hukum dari  al-Qur’an.  Lebih  penting  lagi,  beliau  memastikan  perlunya pendekatan  multidisciplinary  kerana  pesan  al-Qur’an  terlalu  penting  dan  kompleks  untuk diperlakukan  sewenang-wenangnya  oleh   berbagai  kelompok  pun  yang  berkepentingan mempromosikan penafsiran tunggal.
Isu  adanya  keragaman  tafsir  yang  kadangkala  kelihatan  bertentangan  antara  sesama merupakan  perkara  yang  tidak  disenangi  berbagai  pihak.  Menurut  para  pengkritik  Fazlur Rahman, pendapatnya tentang keragaman penafsiran ini serupa dengan mengakui tiadanya kebenaran absolut yang ditentukan Tuhan. Namun, para pengkritik ini tersasar kerana Rahman bukan merelativasikan  kebenaran  mutlak;  sebaliknya,  beliau  hanya  memperlihatkan  bahwa keseragaman tafsir secara absolut merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan tidak desirable. Sebaliknya,  Fazlur Rahman  menawarkan  perbedaan  penafsiran  yang  tidak  menentu  dibahaskan secara terbuka dan dengan mengaplikasikan metodologi yang diajukan atau memperlihatkan asumsi-asumsi tersendiri secara tulus dan saksama.
Selaras  dengan  semangat  demokratisnya,  Fazlur Rahman  membangkitkan  keperluan mendebatkan  dan  membincangkan  perbedaan  secara  terbuka  dan  memberi  peluang  pada masyarakat umum memilih interpretasi keagamaan yang paling sesuai buat mereka: 
Menariknya juga, Rahman melihat proses penafsiran itu sebagai sesuatu yang dinamis dan  tidak  absolut,  walaupun  ini  haruslah  dibedakan  dengan  konsep  relativiti  kebenaran (relativism  of  truth).  Rahman  sudah  tentunya  bukan  merelativitaskan  kebenaran  maupun menolak adanya kebenaran absolut. Sebaliknya, Rahman menyeru pada pertanggungjawaban proses  penafsiran  kerana  beliau  seringkali  tidak  dapat  lari  dari  konteks  persekitaran  dan sejarah sang penafsir itu. Perkara ini akan menjadi jelas sekiranya  kita melihat dengan lebih lanjut pendapat Rahman akan objektivitas sejarah di dalam penafsiran sejarah yang subjektif.
4.      Hermeneutika dan Objektivitas Sejarah
Sekiranya  unsur  sosio-historikal  sesuatu  teks  itu  amat  penting  dan  tidak  dapat diabaikan dalam proses penafsiran, bagaimana pula persoalan objektivitas sejarah? Dalam arti kata  lain,  sekiranya  segala  penafsiran  terhadap  objek  sejarah  itu  tidak  dapat  lari  dari subjektivitas  sang  penafsir,  dapatkah  kita  mempertahankan  kaedah  sosiohistoris  yang dikatakan dapat menangkap makna yang benar yang ingin disampaikan oleh teks?
Menghadapi  persoalan  ini,  Fazlur  Rahman  nampaknya  tidak  menghuraikan  secara jelas  atau  terperinci  melainkan  merujuk  pada  perdebatan  antara  dua  mazhab  hermeneutika, yaitu  antara  Emillio  Betti  (pendukung  teori  objektivas  sejarah)  dan  Hans-Georg  Gadamer (pendukung teori subjektivitas sejarah).  Rahman  kelihatan  berpihak  pada  teori  usulan  Betti  karena  model  tafsir  yang diajukannya  bergantung  pada  asumsi  adanya  objektivitas  dalam  kajian  sesuatu  objek  yang wujud  dalam sejarah  (atau  boleh  juga  disebut  sebagai  kajian  terhadap  tradisi).
Keberpihakannya  pada  teori  usulan  Betti  sekaligus  meletakkannya  di  dalam  posisi bertentangan  dengan  pendapat  Hans-Georg  Gadamer,  pemikir  besar  bidang  falsafah hermeneutika.  Menurut  Gadamer,  kesilapan  projek  Pencerahan  Eropah  di  dalam mempertahankan historical  objectivism  terletak  pada  pengabaian  persoalan  subjectivism  di  dalam mengkaji  objek sejarah.
Sementera  itu,  Fazlur  Rahman,  seperti halnya  Emilio  Betti,  mengkritik  pendapat Gadamer  yang  jelas  memposisikan  setiap  pemahaman  sebagai  subjektif. Dengan  pemahaman  hermeneutika tersebut proses  mempersoalkan  tradisi  dan merubah tradisi demi menjaga dan melestarikan pesan-pesan normatifnya dapat berlangsung terus  di  dalam sejarah.
Di  sini,  penting  diingatkan  bahawa  secara  dasarnya,  Fazlur Rahman berpegang  teguh  pada  objektivitas  etika  dan  moral.  bahkan, Fazlur Rahman  berpendapat  bahwa “élan [semangat] dasar al-Qur’an adalah moral, dari mana mengalir penekanannya yang tegas terhadap  monoteisme  maupun  keadilan  sosial.”  Oleh  itu,  Fazlur Rahman  tidak  terpaut  pada pemahaman  teks  secara  harfiah  (literal)  kerana  teks  itu  muncul  dan  terbatas  oleh  sejarah kecuali  pesan-pesan  normatifnya.  Inilah  yang  membuat  Fazlur Rahman  berani  merombak  dan memikir ulang  sebahagian  besar  tradisi  pemikiran  yang  telah  kuat  di  dalam masyarakat.
Orientasi pemikiran seperti ini sudah tentunya layak dikatakan ‘liberal’; bukan dalam pemahaman negatif, tetapi akomodatif, tidak rigid dan sukar ditinggalkan karena pegangannya pada prinsip dan dasar normatif moral-etika begitu mendalam dan teguh. Tiga  komponen  yang  dibahas  di  atas  (1)  pemahaman  sosio-historis;  (2)  teori gerakan ganda; dan (3) pegangan pada aspek normatif moral-etika berhasil diterapkan oleh Fazlur Rahman,  secara  praktikal,  di  dalam karya  agungnya,  Major  Themes  of  the  Qur’an.
5.      Pendekatan Tafsir Tematis 
Selain  dari pada  sumbangannya  pada  bidang  kajian  al-Qur’an  dan  hermeneutika, Fazlur Rahman juga merealisasikan projek pembaharuan pemahaman terhadap al-Qur’an didalam bidang  penulisan  tafsir  (exegesis)  itu  sendiri.  Malah,  sumbangan  terakhirnya  ini  dapat dianggap  sebagai  yang  terpenting  kerana  Rahman  telah  berjaya  meneruskan  dan memperkayakan  tradisi  tafsir  ke-Islaman  kontemporer.  Ini  dapat  kita  lihat  dalam karya agungnya,  Major Themes of the Qur’an.  Buku tafsir ini pertama kali dicetak pada tahun 1980, sedekade selepas  beliau  meletakkan  jabatan  selaku anggota  Dewan Penasehat  Ideologi  Islam Pemerintah Pakistan dan berhijrah ke Amerika Syarikat. 
Menurut  Fazlur Rahman,  upaya  menyatukan  ayat-ayat  mengikut  tema  adalah  satu-satunya cara memberi pembaca gambaran keterpaduan al-Qur’an dan pesan Tuhan pada  manusia. Ini  berbeda  dari  cara  merekonstruksikan  makna  teks  ayat-per-ayat  atau  menurut  urutan kronologis  yang  akan  hanya  memberi  gambaran  kurang  lengkap  akan  pesan  yang benar  atau “master  idea”  yang  mengalir  di  dalam teks  al-Qur’an.  “Master  idea”  al-Qur’an  ini,  atau seringkali  disebut  oleh  Fazlur Rahman  sebagai  weltanschauung  begitu  penting  dalam  skema  falsafah Rahman
Fazlur Rahman  berpendapat  kajian-kajian  terhadap  teks  al-Qur’an  yang  dilakukan  di  Barat dapat dibahagikan kepada tiga kategori: (1) kajian-kajian yang cuba mencari pengaruh Judeo-Kristian  di  dalam al-Qur’an;  (2)  kajian-kajian  yang  cuba  merekonstruksikan  ayat-ayat  al-Qur’am mengikut  urutan  kronologis;  dan  (3)  kajian-kajian  yang  cuba  membahaskan  isi kandungan al-Qur’an. Menurut Rahman, kategori ketiga ini kurang diberi perhatian; mungkin karena para pengkaji non-Muslim dari Barat merasakan bahawa tugas menerangkan apa yang ingin  disampaikan  al-Qur’an  adalah  tanggungjawab  pengikut  Islam  sendiri.  Oleh  karena  itu,  Fazlur Rahman  mengupayakan  satu  tafsir  yang menggunakan  pendekatan  tematis.  Menurutnya,  pendekatan  inilah  yang  dapat  menangkap makna wahyu Tuhan yang terpadu, konsisten dan koheren.
Di  dalam tafsir  tematisnya,  Fazlur  Rahman  membahaskan  tema-tema  penting ssebagaimana  disentuh  oleh  al-Qur’an.  Menurutnya,  al-Qur’an  merupakan  dokumen  yang ditujukan  untuk  manusia,  dan  walaupun  rujukan  pada  nama  Tuhan  begitu  menyeruah  didalamnya, al-Qur’an itu sendiri bukanlah suatu risalah mengenai Tuhan maupun sifat-Nya.
Konsep-konsep  ini  penting  di  dalam rangka  memahami  pesan-pesan  Ilahi  melalui wahyu-Nya yang terakam di dalam teks al-Qur’an. Secara umum, bolehlah dikatakan bahwa ketakwaan  yang  diinginkan  oleh  al-Qur’an  tidak  lain  daripada  kemestian  manusia menjalankan  tanggunjawabnya  selaku  khalifah,  sesuai  dengan  posisi  uniknya  di  dalam skala penciptaan.
Tafsir  tematis  Fazlur  Rahman  melontarkan  banyak  lagi  pemikiran-pemikiran  yang bernafas  baru.  Inilah  sumbangan  terpenting  Rahman  di  dalam bidang  tafsir  kontemporer. Sebagaimana  ditegaskan  oleh  Komaruddin  Hidayat,  cara  Rahman  merekonstruksi  tradisi kenabian  dan  pesan  dasar  wahyu  ke  dalam suatu  rumusan  yang  bersifat  moral-etikal  bagi kehidupan  (sepertimana  yang  dilakukan  melalui  tafsir  tematisnya)  merupakan  suatu  upaya menimbulkan sosok utuh, baik bersifat individu atau masyarakat, yang mencerminkan bentuk kehidupan  yang  rasional,  humanis  dan  religius  tanpa  harus  mengingkari  proses kesejarahannya.  Mungkin  inilah  keperluan  yang  mendesak  bagi  masyarakat  Islam dewasa ini.

II.    Kesimpulan atau Penutup
Dalam kesimpulan ini Pemakalah mengantarkan pesan Fazlur pada sipembaca bahwa Al-Quran sebagai  teks  petunjuk  bagi  manusia,  juga Fazlur  mendapati  ada  3  konsep  terpenting di  dalam al-Qur’an:  Iman, Islam  dan  Taqwa.  Menurut Fazlur Rahman, ketiga-tiga konsep atau tema ini mengandung makna dasar yang sama: “Istilah  Iman, dari  akar  kata  a-m-n, memiliki  arti  pokok  “keamanan,  bebas  dari  bahaya, damai” Tema Islam, yang akar katanya adalah s-l-m, juga memiliki pengertian yang sama: “aman  dan  integral,  terlindung  dari  disintegrasi,  kehancuran.”  Tema  ketiga,  taqwa,  yang sangat mendasar bagi al-Qur’an di samping kedua istilah di atas, memiliki akar kata w-q-y yang juga  berarti  “melindungi  dari  bahaya,  menjaga  dari  kemusnahan,  tersia-siakan  atau disintegrasi.”  Suatu  refleksi  dan  analisis  terhadap  ketiga  istilah  kunci  ini,  secara  langsung mengarahkan  kita  ke  dalam  “bawah  sadar  al-Qur’an”  sebagaimana  adanya.
Fazlur Rahman adalah tokoh yang telah mewarnai pemikiran Islam agar tetap eksis disamping kritikan atasnya, ini terbukti dari sumbangan  Fazlur  Rahman  di  dalam bidang  ilmu  al-Qur’an  kontemporer  telah meletakkan beliau sebagai salah seorang penggagas reformisme Islam abad ke-20 yang paling penting  dan  kreatif. Teori  hermeneutika  dan  tafsir  tematisnya  telah  memberi  petunjuk  ke arah membongkar penafsiran-penafsiran lama yang kuno dan tidak berfungsi lagi di dalam perubahan  sosial  masyarakat  yang  jauh  berbeda  dari  zaman  terdahulu. 
Di  dalam penafsiran-penafsiran baru, yang kadangkala berbeda dan adakalanya menggugat pemahaman Islam yang  telah  kuat  dan  ketinggalan,  bukanlah  sesuatu  yang  harus  dilihat  sebagai menghancurkan  kestabilan  atau  kebenaran  Islam.  Sebaliknya,  ia  akan  lebih memperkaya  dan  menguatkan  Islam kerana  kebenaran  itu  hanya  bisa  tercapai  melalui proses  menahan  kecenderungan  untuk  mengabsolutkan  pendapat  dan  pendirian  diri  atau pihak masing-masing. Saleh Syukri dalam bukunya menjelaskan “metode hermeneutika disamping memandang ayat-ayat al-quran secara utuh, meneliti kata-kata al-quran sesuai dengan konteksnya dan menjadikan azbabun-nuzul sebagai data sejarah yang penting dalam menemukan kontekstual ayat, juga memfungsikan pendekatan sastra-linguistik, sejarah, sosiologi, antropologi, dan sebagainya sebagai alat bantu  yang penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-quran”
Akhir kata jangan pernah takut mempelajari sesuatu, kita tidak akan sesat ketika hidayah Allah SWT bersama kita. Amin, Wallahu ‘alam.

DAFTAR PUSTAKA

Abd  A’la,  2003.  Dari  Neomodernisme  ke  Islam  Liberal:  Jejak  Fazlur  Rahman  dalam  Wacana  Islam  di Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Adian Husaini, 2006. Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gema Insani.
Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, 1986. Merambah Jalan baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Bandung: Mizan.
Komaruddin Hidayat, 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina.
Maryam Jameela,  t.t.  Islam  dan  Moderenisme:  Kritik  Terhadap  Berbagai  Usaha  Sekularisasi  Dunia  Islam. Surabaya: Usaha Nasional.
Mahyuddin Anas, 1980. Tema pokok al-quran fazlurrahman, Bandung. Pustaka
Moosa Ibrahim, 2001. Gelombang Perubahan dalam Islam Staudi Fundamintalis dalam Islam. Jakarta. Pt. RajaGrafindo Persada
Saleh Syukri Ahmad, 2007, Metodologi Tafsir Al-Quran Kontemporer dalam Pandangan Fazlurrahman.  Jambi. Sultan Thaha Press
Sutrisnno. 2005. Fazlurrahman Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism. Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1978.
Taufik Adnan Amal, 1989.  Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman. Bandung: Mizan.
Taufik Adnan Amal & Syamsu Rizal Panggabean, 1989.  Tafsir Kontekstual Al-Quran: Sebuah Kerangka Konseptual. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar