HERMENEUTIKA MODEL FAZLUR
RAHMAN
Oleh: Taufikurrahman,
M.P.d.I
Pendahuluan
a.
Riwayat Hidup Fazlurrahman
dan pola pemikirannya
Fazlur Rahman tokoh pemikir
Islam modern yang lahir pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Yaitu ditengah-tengah
keluarga Malak letaknya di Hazara sebelum terpencahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan.
Ayahnya bernama Maulana Shihabuddin, beliau alumni Sekolah Menengah terkemuka
yaitu Darul Ulum Deoban sebuah lembaga yang mengkaji tentang pemahaman islam
salafi yang fukus pada Fikih, Ilmu Kalam, Hadis, Tafsir, dan yang lainnya,
walaupun Fazlurrahman tidak belajar ilmu
tersebut di lenbaga Darul Ulum akan tetapi dia langsung mendapatkan kajian
privat dari ayahnya sebab ayahnya seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional
paling bergengsi di anak benua Indo-Pakistan. Serta keluarganya bermadzhab
Hanafi, suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab
sunni lainnya.
Pada tahun 1942, Fazlur
Rahman mendapat gelar M.A dalam sastra Arab di Universitas Punjab, pada 1946
kuliah di Oxford University, dan meraih gelar doktor filsafat (Ph.D) pada tahun
1951, kemudian mengajar beberapa saat di Universitas Durham. Setelah itu dia bekerja pada Institute of Islamic Studies Mc. Gill University Kanada
sebagai associate professor of philosophy. ia menguasai banyak bahasa:
bahasa Latin, Yunani, Inggris, Perancis,
Jerman, Turki, Persia, Arab dan Urdu. Setelah
beberapa tahun mengembara di negri Barat Rahman kembali ke negrinya di
Pakistan, pada waktu itu Pakistan sedang di landa perdebatan sengit antara berbagai
kelompok Islam –Konservatif, modernis dan Sekuler dalam menentukan struktur
Islam yang relevan untuk Islam Pakistan, nah pada waktu itu Rahman terlibat
secara Intensif dalam kontroversi dalam rangka turut memberikan definisi
Ideologis bagi Pakistan sebagai Negara Islam. Melalui kariernya sebagai
direktur pada Institute of Islamic Reseach pada tahun 1962, Rahman
leluasa mengepakkan sayapnya dalam melanjutkan Visi dan Misinya, sampai dua
tahu kemudian (1964) Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat
Ideologi Islam. Pada kondisi
strategis itu Rahman memamfaatkan term-term pembaharuan dengan disambut oleh
kelompok modernis, sehingga seringkali bertentangan dengan opini-opini kelompok
kalangan tradisional fundamintalis, sehingga mencapai pada puncak tantangan
yang bertubi-tubi ketika Rahman meluncurkan karya ilmiyahnya dengan berbahasa
Urdun Fikr-u-Nazhr pada tahun 1967. Dalam karangannya menyatakan bahwa “Al-Quran
itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga
seluruhnya merupakan perkataan Muhammad” pernyataan tersebut membuat heboh
masyarakat Pakistan terutama kalangan Fundamentalis Konservatif seperti
Al-bayyinat, bahkan mereka telah memberikan keputusan dengan mengklaim sebagai
“pengingkar Al-Quran” dan kontroversi itu lebih memanas dan meledak dalam
demonstrasi Massa dan aksi mogok total yang dilakukan oleh elemen masyarakat
mulai mahasiswa sampai sopir taxi demonstrasi tersebut terjadi pada awal 1968.
Pada 1969. Ia memutuskan
hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru
besar dalam kajian Islam di segala aspeknya pada Departement of Near Eastern
Languages and Civilization, University
of Chicago. Sebagai guru
besar dia mengajar mata kuliah pemahaman Al-Quran, Filsafat Islam, selain itu
juga sering mengisi kajian islam pada seminar internasional bahkan beliau juga
pernah datang ke Indonesia bersama Prof. Sherif Mardin dari Istambul pada tahun
1985 untuk meninjau dan memberikan Advise (kabar) terhadap penyelenggara tinggi
islam di bawah naungan Departemen Agama.
Pemahaman penyusun yang
terbatas mencoba membahas tentang pemikiran dan sumbangannya, Makalah ini
merupakan pembahasan khusus
terhadap tokoh Islam modern diantara yang paling awal
mempolopori corak tafsir
Hermeneutik dinamis bagi membuka
ruang ijtihad semasa
dan memecahkan kemandekan pemikiran
Islam kontemporer. Tokoh yang
dimaksudkan ialah Fazlur Rahman, seorang sarjana dan ilmuwan dari Pakistan
yang kemudian menetap di Amerika Syarikat. Dilahirkan pada tahun 1919 di daerah
Barat Laut Pakistan, beliau pernah menjadi
profesor di Universiti
Chicago sehingga akhir
hayatnya pada tahun
1998 akibat komplikasi pembedahan
jantung. Menurut para sarjana dunia Islam maupun Barat, Fazlur Rahman merupakan salah satu pemikir
Islam terpenting di abad ke-20.
b.
Karya-karya Fazlurrahman
Dari Akumulasi latar
belakang Pendidikan yang berbeda antara timur dan barat tampaknya akan sangat
mempengaruhi gaya
berfikir dan solusi yang ditawarkan dalam menyikapi persoalan yang berkembang
ditengah masyarakat muslim. Hal tersebut dilatarbelakangi ketika Rahman
memfokuskan kajiannya pada Filsafat dan Teologi yang mengacu pada sumber islam
klasik sehingga dapat membuahkan karya yang berjudul Avicenna’s Psychology
Prophecy in Islam, pada karangan tersebut memaparkan analisisnya seobyektif
mungkin, dan tidak menimbulkan kecendrungan apologi (pembelaan maaf) yang bersifat pribadi. Juga karangan beliau
adalah Prophecy in Islam : Philosophy and Orthodoxy dan masih ada
karangan lainnya.
1.
Persoalan Pendekatan dan Pemahaman al-Qur’an
Persoalan Al-qur’an menurut
Fazlur Rahman, adalah persoalan kaedah dan pemahaman (method and hermeneutics)
terhadap al-Qur’an yang belum
pernah dibicarakan dengan tuntas
di dalam tradisi Islam dan merupakan perkara yang mendesak. Corak
penafsiran yang diwarisi dari tradisi keIslaman zaman klasik telah gagal
memaparkan pesan-pesan al-Qur’an secara berpadu. Akibat
dari kaedah yang
menafsirkan ayat demi
ayat, serta kecenderungan terhadap
penggunaan ayat-ayat al-Qur’an
secara atomistik, para
mufassirun dan umat Islam umumnya
tidak dapat menangkap
keterpaduan pesan al-Qur’an
yang dilandaskan suatu weltanschauung (pandangan dunia atau worldview)
yang pasti.
Fazlur Rahman selanjutnya
mengkritik kecenderungan menafsir
dan memperlakukan ayat-ayat al-Qur’an secara sepotong-sepotong
dan tidak menentu (piecemeal and ad-hoc), yang hingga kini, masih berlanjutan.
Dengan perubahan sosial dan masukan
ide-ide baru yang berasal dari
Barat, setengah pemikir Islam cenderung mencari-cari dan menggunakan ayat-ayat
Al-Qu’ran yang dapat menjustifikasikan posisi
mereka sama kuat untuk
mempertahankan konsep-konsep dan
institusi-institusi yang terbit dari Barat, maupun menolak penerimaannya.
Di dalam
latar pemikiran apologetik
sebeginilah Fazlur Rahman
mengusulkan diwujudkan suatu kaedah
hermeneutika yang lebih
mantap. Sumbangannya yang
paling bermakna ke arah proses ini ialah dengan pengusulan teori ‘gerakan
ganda’ (double movement) yang kini menjadi landasan
bagi penafsiran-penafsiran baru
yang bersifat kontekstual
dan dinamis.
Menurut Fazlur Rahman,
pemahaman tepat pada pesan al-Qur’an dapat dipisahkan daripada keimanan itu
sendiri, meskipun kita tidak boleh menafikan pemahaman boleh mendatangkan
keimanan dan keimanan juga boleh dan sepatutnya membenihkan pemahaman yang
tepat.
Implikasi dari perbedaan
yang dibuat oleh Fazlur Rahman antara pendekatan pure cognitive dan
emotive-faith ini memberi
ruang pada penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang
berlandaskan kajian-kajian
sejarah dan ilmiah.
Oleh kerana pendekatan
terhadap al-Qur’an selama
ini bersifat atomistik dan
ahistorikal, Fazlur haruslah
membangunkan justifikasi yang
kuat mengapa pendekatan historikal
itu merupakan kemestian
dan, lebih penting
lagi, mengapa suatu kaedah
yang legitimat dari
sisi epistemologi pewahyuan.
Perkara yang terakhir ini dapat
kita tinjau melalui nisbah antara wahyu dan penerima (Nabi Muhammad), dan juga
duduk perkara pewahyuan itu sendiri (nature of revelation).
Berikut, kita akan
membincarakan tentang
a.
pemahaman Fazlur Rahman
terhadap proses pewahyuan dari kata-kata Tuhan (transendental) kepada
ucapan dan teks (temporal);
b.
teori
double-movement di dalam
rangka mendekati dan
menggali pesan-pesan al-Qur’an;
c.
keobjektifan sejarah
dalam penggunaan
hermeneutika;
2.
Teori Pewahyuan dan Ruang Temporal
Di dalam rangka
pemahaman ortodoks, proses
pewahyuan merupakan suatu
imlak (dictation) antara outhor (Tuhan) dan penerima
(Nabi Muhammad) melalui
perantaraan (malaikat
Jibril). Dalam arti kata
lain, sang penerima
seringkali dipaparkan seperti
sebuah perakam suara (tape
recorder) yang memainkan
semula segala apa
yang ditransmisikan secara
mekanis (yaitu, menjadi teks). Ini bermakna peranan dan konteks penerima
itu seringkali tidak diberi perhatian sehingga wahyu-teks itu dilihat sebagai
sesuatu yang berada, secara keseluruhannya, di luar ruang spatio-temporal.
Pemahaman ortodoks
seperti ini, sebagaimana yang
dikritik Fazlur Rahman, sememangnya kurang lengkap karena
aspek temporal wahyu-teks tidak difikirkan langsung. Hasilnya, wahyu-teks
itu mempunyai komponen
temporal karena wujud
di ruang yang semestinya temporal dan berubah-ubah.
Oleh itu, proses pewahyuan itu lebih kompleks dari apa yang
digambarkan oleh kelompok
ortodoks. Mungkin inilah
yang menyebabkan timbulnya pendekatan
yang ahistorikal dalam menafsir atau
mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an. Seperti yang diperhatikan Ebrahim
Moosa, persoalaan “interface of revelation with the world” begitu penting
sekiranya sejarah ingin berperan di dalam memahami wahyu yang bersifat
transendental.
Jika diperhatikan,
penekanan pada aspek
sosio-historikal teks al-Qur’an
ini merupakan salah satu
ciri utama gerakan
neomodernisme di mana
Fazlur Rahman merupakan salah
seorang pengggagas utamanya.
Aspek sosio-historikal ini
bukan hanya mencakupi situasi
turunnya sesuatu ayat (asbab al-nuzul) tetapi, sebagaimana digambarkan oleh
Nurcholish Madjid, merangkumi
pemahaman pada konteks
budaya Arab secara keseluruhannya pada zaman turunnya
wahyu (al-Qur’an).
Berbalik pada
penolakan terhadap pemahaman
naif kelompok ortodoks,
Fazlur Rahman menekankan bahwa al-Qur’an itu sendiri tidak menggambarkan
wahyu sebagai sesuatu yang bersifat eksternal sepenuhnya dari diri Nabi
Muhammad itu sendiri. Al-Qur’an menjelaskan: “Ia [al-Qur’an]
dibawa turun oleh
al-Ruh al-Amin [malaikat
Jibril yang amanah]
ke dalam hatimu
{Muhammad.SAW}” dan juga
“maka Jibril itu
telah menurunkannya [al-Qur’an]
ke dalam hatimu dengan seizin
Allah.”
Kritik Rahman
terhadap pemahaman ortodoks
dan pemahamannya terhadap pergelutan komponen transendental
dan temporal di dalam proses pewahyuan seharusnya merupakan titik-tolak
pergeserannya dengan kelompok
ulama konservatif, terutamanya
di Pakistan sewaktu dia
menjabat jawatan Pengarah
Lembaga Penelitian Islam. Walaupun memformulasikan teori
pewahyuannya bukanlah sesuatu yang menyimpang dari tradisi intelektual Islam
(teori ini pernah diungkapkan oleh Syeah Wali Allah dan Muhammad Iqbal), Fazlur
Rahman sering disalah-artikan sebagai orang yang mengatakan al-Qur’an
itu ciptaan Muhammad.
padahal, Fazlur Rahman secara terang-terangan mengatakan:
“Setiap Muslim sejak datangnya Islam telah meyakini, dan harus
meyakini, bahwa al-Qur’an merupakan
Kalam Allah yang
diwahyukan kepada Nabi
Muhammad. Tanpa kepercayaan teramat penting
ini, tidak satu
pun yang bahkan
dapat menjadi seorang
Muslim nominal (hanya dalam
sebutan).” Menurut Abd A’la pula, teori pewahyuan Rahman
juga dipengaruhi oleh pendapat
al-Ghazali yang membedakan kalam Allah (al-Qur’an yang
sebenarnya) dan mushaf (teks al-Qur’an secara fizikal) itu sendiri. A’la
menulis:
“Pengaruh al-Ghazali terhadap
Fazlur Rahman juga
tampak ketika al-Ghazali
berupaya menjelaskan hubungan kalam
Allah dengan al-Qur’an.
Untuk ini, ia
membedakan antara bacaan
(qira’ah), yang dibaca (maqru’), dan al-Qur’an. Bacaan adalah perbuatan yang
bersifat inderawi yang dilakukan
pembaca dalam waktu-waktu
tertentu. Oleh kerana
itu, bacaan adalah baru. Sedang
“yang dibaca” adalah Kalam Allah yang qadim yang terdapat pada zat-Nya. Apa
yang dibaca adalah searti dengan al-Qur’an. “Apa yang dibaca” dalam pandangan
al-Ghazali adalah sesuatu
yang terdapat di
balik bacaan, bukan
mushhaf itu sendiri.”
Selanjutnya, kita
akan melihat secara
khusus sumbangan Fazlur Rahman
dalam bidang metodologi penafsiran
al-Qur’an kontemporer dan
usulan pendekatan hermeneutika
al-Qur’an.
3.
Teori Gerakan Ganda (Double Movement)
Antara sumbangan terpenting
Fazlur Rahman di dalam bidang kajian al-Qur’an ialah usulan teori ‘gerakan
ganda’ (double movement) yang begitu berpengaruh melahirkan tafsir-tafsir
kontekstual, terutamanya di dalam bidang hukum.
Pertama sekali,
Fazlur Rahman mendefinisikan al-Qur’an
sebagai respons Tuhan, melalui Nabi Muhammad selaku wadah,
terhadap kondisi moral dan sosial masyarakat Arab waktu itu. “The Qu’ran is a divine response,
through the Prophet’s mind, to the moral-social situation of the Prophet’s Arabia.” Oleh itu,
al-Qur’an itu tidak
terlepas dari konteks
sosial dan sejarah.
Di dalam rangka
pemahaman historis terhadap
al-Qur’an, Fazlur Rahman mengetengahkan tentang
teori ‘gerakan ganda’-nya.
Di sini, Fazlur
Rahman menjelaskan ‘gerakan
ganda’ sebagai langkah menyelusuri dari situasi saat ini kepada situasi
pewahyuan, dan kemudian kembali dari lampau kepada masa kini.
a.
Dari
situasi kini kepada situasi pewahyuan, Di
dalam gerakan kembali
pada konteks al-Qur’an
sewaktu ia diturunkan,
ada dua langkah yang
diperlukan. Pertama, sang penafsir
harus memahami makna
yang benar sesuatu ayat dengan mengkaji latar sejarah atau persoalan
yang menyentuh sebab ayat itu diturunkan. Di dalam rangka ini, kajian umum
terhadap situasi makro kehidupan sosial Arab menjelang dan sekitar penurunan wahyu,
harus dilaksanakan. Kedua,
sang penafsir harus
pula menggarap prinsip-prinsip dasar
dari ayat-ayat yang menyentuh persoalan-persoalan khusus
itu, dalam arti kata
tujuan sosio-moral dibalik setiap
ayat. Di
dalam kedua-dua proses ini,
semangat (élan) ajaran
al-Qur’an secara keseluruhan haruslah diambil kiranya, demi
menjaga keutuhan pesan yang cuba diketengahkan melalui wahyu itu.
b.
Dari
konteks pewahyuan kepada konteks masakini, Dengan prinsip-prinsip dasar
yang digarap dari
ayat-ayat spesifik itu,
sang penafsir haruslah memaknakan
ayat-ayat itu kembali
dan mengaplikasikannya pada
konteks dan situasi sosial masa kini. Langkah ini juga memerlukan penelitian
secukupnya akan kondisi masa kini
supaya prinsip-prinsip al-Qur’an
dapat diterapkan sesuai
dengan keperluan masyarakat.
Dengan pergerakan berganda
sebegini di dalam penafsiran teks, Fazlur Rahman yakin ijtihad dapat
diberi nafas baru.
Sekiranya pergerakan ini
berjaya dilakukan, pesan-pesan al-Qur’an dapat ‘hidup’ dan
menjadi efektif sekali lagi.
Pergerakan berganda seperti
yang dikemukan oleh Fazlur Rahman memang berkesan di dalam mengaitkan kerelevanan
teks al-Qur’an pada
konteks kini, terutamanya
di dalam rangka penafsiran
hukum dari al-Qur’an. Lebih
penting lagi, beliau
memastikan perlunya
pendekatan multidisciplinary kerana
pesan al-Qur’an terlalu
penting dan kompleks
untuk diperlakukan
sewenang-wenangnya oleh berbagai
kelompok pun yang
berkepentingan mempromosikan penafsiran tunggal.
Isu adanya
keragaman tafsir yang
kadangkala kelihatan bertentangan
antara sesama merupakan perkara
yang tidak disenangi
berbagai pihak. Menurut
para pengkritik Fazlur Rahman, pendapatnya tentang keragaman
penafsiran ini serupa dengan mengakui tiadanya kebenaran absolut yang
ditentukan Tuhan. Namun, para pengkritik ini tersasar kerana Rahman bukan
merelativasikan kebenaran mutlak;
sebaliknya, beliau hanya
memperlihatkan bahwa keseragaman
tafsir secara absolut merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan tidak desirable. Sebaliknya, Fazlur Rahman
menawarkan perbedaan penafsiran
yang tidak menentu
dibahaskan secara terbuka dan dengan mengaplikasikan metodologi yang
diajukan atau memperlihatkan asumsi-asumsi tersendiri secara tulus dan saksama.
Selaras dengan
semangat demokratisnya, Fazlur Rahman
membangkitkan keperluan
mendebatkan dan membincangkan
perbedaan secara terbuka
dan memberi peluang
pada masyarakat umum memilih interpretasi keagamaan yang paling sesuai
buat mereka:
Menariknya juga, Rahman
melihat proses penafsiran itu sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak
absolut, walaupun ini
haruslah dibedakan dengan
konsep relativiti kebenaran (relativism of
truth). Rahman sudah
tentunya bukan merelativitaskan kebenaran
maupun menolak adanya kebenaran absolut. Sebaliknya, Rahman menyeru pada
pertanggungjawaban proses
penafsiran kerana beliau
seringkali tidak dapat
lari dari konteks
persekitaran dan sejarah sang
penafsir itu. Perkara ini akan menjadi jelas sekiranya kita melihat dengan lebih lanjut pendapat
Rahman akan objektivitas sejarah di dalam penafsiran sejarah yang subjektif.
4.
Hermeneutika dan Objektivitas Sejarah
Sekiranya unsur
sosio-historikal sesuatu teks
itu amat penting
dan tidak dapat diabaikan dalam proses penafsiran,
bagaimana pula persoalan objektivitas sejarah? Dalam arti kata lain,
sekiranya segala penafsiran
terhadap objek sejarah
itu tidak dapat
lari dari subjektivitas sang
penafsir, dapatkah kita
mempertahankan kaedah sosiohistoris
yang dikatakan dapat menangkap makna yang benar yang ingin disampaikan
oleh teks?
Menghadapi persoalan
ini, Fazlur Rahman
nampaknya tidak menghuraikan
secara jelas atau terperinci
melainkan merujuk pada
perdebatan antara dua
mazhab hermeneutika, yaitu antara
Emillio Betti (pendukung
teori objektivas sejarah)
dan Hans-Georg Gadamer (pendukung teori subjektivitas
sejarah). Rahman kelihatan
berpihak pada teori
usulan Betti karena
model tafsir yang diajukannya bergantung
pada asumsi adanya
objektivitas dalam kajian
sesuatu objek yang wujud
dalam sejarah (atau boleh
juga disebut sebagai
kajian terhadap tradisi).
Keberpihakannya pada
teori usulan Betti
sekaligus meletakkannya di
dalam posisi bertentangan dengan
pendapat Hans-Georg Gadamer,
pemikir besar bidang
falsafah hermeneutika. Menurut Gadamer,
kesilapan projek Pencerahan
Eropah di dalam mempertahankan historical objectivism
terletak pada pengabaian
persoalan subjectivism di
dalam mengkaji objek sejarah.
Sementera itu,
Fazlur Rahman, seperti halnya Emilio
Betti, mengkritik pendapat Gadamer yang
jelas memposisikan setiap
pemahaman sebagai subjektif. Dengan pemahaman
hermeneutika tersebut proses
mempersoalkan tradisi dan merubah tradisi demi menjaga dan
melestarikan pesan-pesan normatifnya dapat berlangsung terus di
dalam sejarah.
Di sini,
penting diingatkan bahawa
secara dasarnya, Fazlur Rahman berpegang teguh
pada objektivitas etika
dan moral. bahkan, Fazlur Rahman berpendapat
bahwa “élan [semangat] dasar al-Qur’an adalah moral, dari mana mengalir
penekanannya yang tegas terhadap
monoteisme maupun keadilan
sosial.” Oleh itu,
Fazlur Rahman tidak terpaut
pada pemahaman teks secara
harfiah (literal) kerana
teks itu muncul
dan terbatas oleh
sejarah kecuali pesan-pesan normatifnya.
Inilah yang membuat
Fazlur Rahman berani merombak
dan memikir ulang sebahagian besar
tradisi pemikiran yang
telah kuat di
dalam masyarakat.
Orientasi
pemikiran seperti ini sudah tentunya layak dikatakan ‘liberal’; bukan dalam
pemahaman negatif, tetapi akomodatif, tidak rigid dan sukar ditinggalkan karena
pegangannya pada prinsip dan dasar normatif moral-etika begitu mendalam dan
teguh. Tiga komponen yang
dibahas di atas
(1) pemahaman sosio-historis; (2)
teori gerakan ganda; dan (3) pegangan pada aspek normatif moral-etika
berhasil diterapkan oleh Fazlur Rahman,
secara praktikal, di
dalam karya agungnya, Major
Themes of the
Qur’an.
5.
Pendekatan Tafsir Tematis
Selain dari pada
sumbangannya pada bidang
kajian al-Qur’an dan
hermeneutika, Fazlur Rahman juga merealisasikan projek pembaharuan
pemahaman terhadap al-Qur’an didalam bidang
penulisan tafsir (exegesis)
itu sendiri. Malah,
sumbangan terakhirnya ini
dapat dianggap sebagai yang
terpenting kerana Rahman
telah berjaya meneruskan
dan memperkayakan tradisi tafsir
ke-Islaman kontemporer. Ini
dapat kita lihat
dalam karya agungnya, Major
Themes of the Qur’an. Buku tafsir ini
pertama kali dicetak pada tahun 1980, sedekade selepas beliau
meletakkan jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi
Islam Pemerintah Pakistan
dan berhijrah ke Amerika Syarikat.
Menurut Fazlur Rahman, upaya
menyatukan ayat-ayat mengikut
tema adalah satu-satunya cara memberi pembaca gambaran
keterpaduan al-Qur’an dan pesan Tuhan pada
manusia. Ini berbeda dari
cara merekonstruksikan makna
teks ayat-per-ayat atau
menurut urutan kronologis yang
akan hanya memberi
gambaran kurang lengkap
akan pesan yang benar
atau “master idea” yang
mengalir di dalam teks
al-Qur’an. “Master idea”
al-Qur’an ini, atau seringkali disebut
oleh Fazlur Rahman sebagai
weltanschauung begitu penting
dalam skema falsafah Rahman
Fazlur
Rahman berpendapat kajian-kajian
terhadap teks al-Qur’an
yang dilakukan di
Barat dapat dibahagikan kepada tiga kategori: (1) kajian-kajian yang
cuba mencari pengaruh Judeo-Kristian
di dalam al-Qur’an; (2)
kajian-kajian yang cuba
merekonstruksikan ayat-ayat al-Qur’am mengikut urutan
kronologis; dan (3)
kajian-kajian yang cuba
membahaskan isi kandungan
al-Qur’an. Menurut Rahman, kategori ketiga ini kurang diberi perhatian; mungkin
karena para pengkaji non-Muslim dari Barat merasakan bahawa tugas menerangkan
apa yang ingin disampaikan al-Qur’an
adalah tanggungjawab pengikut
Islam sendiri. Oleh
karena itu, Fazlur Rahman
mengupayakan satu tafsir
yang menggunakan pendekatan tematis.
Menurutnya, pendekatan inilah
yang dapat menangkap makna wahyu Tuhan yang terpadu,
konsisten dan koheren.
Di dalam tafsir
tematisnya, Fazlur Rahman
membahaskan tema-tema penting ssebagaimana disentuh
oleh al-Qur’an. Menurutnya,
al-Qur’an merupakan dokumen
yang ditujukan untuk manusia,
dan walaupun rujukan
pada nama Tuhan
begitu menyeruah didalamnya, al-Qur’an itu sendiri bukanlah
suatu risalah mengenai Tuhan maupun sifat-Nya.
Konsep-konsep ini
penting di dalam rangka
memahami pesan-pesan Ilahi
melalui wahyu-Nya yang terakam di dalam teks al-Qur’an. Secara umum,
bolehlah dikatakan bahwa ketakwaan
yang diinginkan oleh
al-Qur’an tidak lain
daripada kemestian manusia menjalankan tanggunjawabnya selaku
khalifah, sesuai dengan
posisi uniknya di
dalam skala penciptaan.
Tafsir tematis
Fazlur Rahman melontarkan
banyak lagi pemikiran-pemikiran yang bernafas
baru. Inilah sumbangan
terpenting Rahman di
dalam bidang tafsir kontemporer. Sebagaimana ditegaskan
oleh Komaruddin Hidayat,
cara Rahman merekonstruksi tradisi kenabian dan
pesan dasar wahyu
ke dalam suatu rumusan
yang bersifat moral-etikal
bagi kehidupan (sepertimana yang
dilakukan melalui tafsir
tematisnya) merupakan suatu
upaya menimbulkan sosok utuh, baik bersifat individu atau masyarakat,
yang mencerminkan bentuk kehidupan
yang rasional, humanis
dan religius tanpa
harus mengingkari proses kesejarahannya. Mungkin
inilah keperluan yang
mendesak bagi masyarakat
Islam dewasa ini.
II.
Kesimpulan atau Penutup
Dalam kesimpulan ini
Pemakalah mengantarkan pesan Fazlur pada sipembaca bahwa Al-Quran sebagai teks
petunjuk bagi manusia,
juga Fazlur mendapati ada
3 konsep terpenting di
dalam al-Qur’an: Iman,
Islam dan Taqwa. Menurut Fazlur Rahman, ketiga-tiga konsep
atau tema ini mengandung makna dasar yang sama: “Istilah Iman, dari
akar kata a-m-n, memiliki arti
pokok “keamanan, bebas
dari bahaya, damai” Tema Islam,
yang akar katanya adalah s-l-m, juga memiliki pengertian yang sama: “aman dan
integral, terlindung dari
disintegrasi, kehancuran.” Tema
ketiga, taqwa, yang sangat mendasar bagi al-Qur’an di
samping kedua istilah di atas, memiliki akar kata w-q-y yang juga berarti
“melindungi dari bahaya,
menjaga dari kemusnahan,
tersia-siakan atau
disintegrasi.” Suatu refleksi
dan analisis terhadap
ketiga istilah kunci
ini, secara langsung mengarahkan kita
ke dalam “bawah
sadar al-Qur’an” sebagaimana
adanya.
Fazlur Rahman adalah tokoh
yang telah mewarnai pemikiran Islam agar tetap eksis disamping kritikan
atasnya, ini terbukti dari sumbangan
Fazlur Rahman di
dalam bidang ilmu al-Qur’an
kontemporer telah meletakkan
beliau sebagai salah seorang penggagas reformisme Islam abad ke-20 yang paling
penting dan kreatif. Teori hermeneutika
dan tafsir tematisnya
telah memberi petunjuk
ke arah membongkar penafsiran-penafsiran lama yang kuno dan tidak
berfungsi lagi di dalam perubahan
sosial masyarakat yang
jauh berbeda dari
zaman terdahulu.
Di dalam penafsiran-penafsiran baru, yang
kadangkala berbeda dan adakalanya menggugat pemahaman Islam yang telah
kuat dan ketinggalan,
bukanlah sesuatu yang
harus dilihat sebagai menghancurkan kestabilan
atau kebenaran Islam.
Sebaliknya, ia akan
lebih memperkaya dan menguatkan
Islam kerana kebenaran itu
hanya bisa tercapai
melalui proses menahan kecenderungan
untuk mengabsolutkan pendapat
dan pendirian diri
atau pihak masing-masing. Saleh Syukri dalam bukunya menjelaskan “metode
hermeneutika disamping memandang ayat-ayat al-quran secara utuh, meneliti
kata-kata al-quran sesuai dengan konteksnya dan menjadikan azbabun-nuzul
sebagai data sejarah yang penting dalam menemukan kontekstual ayat, juga
memfungsikan pendekatan sastra-linguistik, sejarah, sosiologi, antropologi, dan
sebagainya sebagai alat bantu yang
penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-quran”
Akhir kata jangan pernah
takut mempelajari sesuatu, kita tidak akan sesat ketika hidayah Allah SWT
bersama kita. Amin, Wallahu ‘alam.
DAFTAR PUSTAKA
Abd A’la,
2003. Dari Neomodernisme
ke Islam Liberal:
Jejak Fazlur Rahman
dalam Wacana Islam
di Indonesia. Jakarta:
Paramadina.
Adian Husaini, 2006. Hegemoni
Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gema Insani.
Fachry Ali dan Bahtiar
Effendy, 1986. Merambah Jalan baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa
Orde Baru. Bandung:
Mizan.
Komaruddin Hidayat, 1996.
Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina.
Maryam Jameela, t.t. Islam
dan Moderenisme: Kritik
Terhadap Berbagai Usaha
Sekularisasi Dunia Islam. Surabaya: Usaha Nasional.
Mahyuddin Anas, 1980. Tema
pokok al-quran fazlurrahman, Bandung.
Pustaka
Moosa Ibrahim, 2001. Gelombang
Perubahan dalam Islam Staudi Fundamintalis dalam Islam. Jakarta. Pt. RajaGrafindo Persada
Saleh Syukri Ahmad, 2007, Metodologi
Tafsir Al-Quran Kontemporer dalam Pandangan Fazlurrahman. Jambi. Sultan Thaha Press
Sutrisnno. 2005. Fazlurrahman
Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Syed Muhammad Naquib
Al-Attas, Islam and Secularism. Kuala Lumpur:
Muslim Youth Movement of Malaysia,
1978.
Taufik Adnan Amal, 1989. Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas
Pemikiran Hukum Fazlur Rahman. Bandung:
Mizan.
Taufik
Adnan Amal & Syamsu Rizal Panggabean, 1989. Tafsir Kontekstual Al-Quran: Sebuah Kerangka
Konseptual. Bandung:
Mizan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar