PROBLEM FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN:
KELAHIRAN FILSAFAT MODERN
Oleh: Taufikurrahman, M.Pd.I
Boleh jadi, kata-kata Thomas Aquinas, salah
seorang tokoh filsafat abad pertengahan masa skolastik, di atas adalah gambaran
seutuhnya peta pemikiran filsafat pada abad pertengahan. Abad pertengahan
seringkali dituduh sebagai masa suram (abad gelap) dunia filsafat, dengan dalih
kuatnya dominasi dan otoritas agama dalam pemikiran filsafat masa itu. Filsafat
dianggap seolah-olah tidak lebih sebagai instrumen dalam upaya menjustifikasi
teologi agama.
Wilayah kekuasan Romawi baik di timur
maupun barat, dikuasai hampir seluruhnya oleh ’dinasti’ Kristen (Katolik).
Kolaborasi antara penguasa dengan gereja menjadi satu kekuatan superpower dalam
struktur masyarakat. Dalam dunia Kristen inilah filsafat abad pertengahan
bertumbuh kembang, dan ini yang meniscayakan adanya corak filsafat yang berasas
teologis.
Di dunia lainnya seperti di India,
Tiongkok, dan Arab (Islam), pun memiliki keserupaan corak dan model filsafat
yang sama dengan yang di dunia Kristen. Filsafat India berkembang dan menjadi satu
dengan agama sehingga pemikiran filsafatnya bersifat religius dan tujuan
akhirnya mencari keselamatan akhirat. Filsafat India terbagi menjadi tiga masa:
Zaman Weda pemikiran filsafat berupa mantera-mantera dan pujian keagamaan,
Zaman Wira Carita pemikiran filsafat berupa tulisan-tlisan tentang kepahlawanan
dan tentang hubungan manusia dengan dewa. Zaman Sastra Sutra diisi oleh semakin
banyaknya bahan-bahan pemikiran filsafat (sutra), dengan ditandai dengan lahirnya
tokoh-tokoh seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa, dan lainnya. Zaman Kemunduran
diisi oleh pemikiran filsafat yang mandul, karena para ahli pikir hanya
menirukan pemikiran filsafat yang lampau saja. Zaman Pembaharuan diisi oleh
kebangkitan pemikiran filsafat India,yang
dipelopori oleh Ram Mohan Ray, seorang pembaharu yang mendapatkan pendidikan di
Barat.
Filsafat Tiongkok dapat dikatakan hidup
dalam kebudayaan Tiongkok. Hal ini disebabkan karena pemikiran filsafat selalu
diberikan dalam setiap jenjang pendidikan dari pendidikan dasar sampai
pendidikan tinggi. Menurut rakyat Tiongkok fungsi filsafat dalam kehidupan
manusia adalah untuk mempertinggi tingkat rohani. Di Tiongkok ada dua aliran
yang mendominasi pemikiran rakyat yaitu Confusianisme dan Taoisme.
Di dunia Arab (Islam), filsafat yang
berkembang adalah upaya sintesa agama dengan pemikiran filsafat platonian dan
aristotelian sekaligus. Filsafat Islam dibagi dalam beberapa periode (a).
Periode Mu’tazilah yaitu periode yang mendahulukan pemakaian akal pikiran
kemudian diselaraskan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Menurut mereka ,
Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak mungkin bertentangan dengan akal pikiran.(b).
Periode Filsafat Pertama upaya pendahuluannya adalah diadakan pengumpulan
naskah-naskah filsafat Yunani, kemudian diterjemahkan. (c). Periode kalam
Asy’ari adalah periode memperkokoh akidah Islam.(d) Periode filsafat kedua
merupakan prestasi besar dan sebagai mata rantai hubungan Islam dari Timur ke
Eropa, yang belakangan dianggap sebagai masa-masa peranan Islam terhadap Eropa
dalam memberikan spirit kebebasan berpikir.
Filsafat abad pertengahan di Barat (dunia
Kristen), antara abad 1 s.d awal abad 16 M, seringkali dibagi dalam dua masa,
yakni masa patristik dan masa skolastik, yang berpusat di Athena, Alexandria
dan Byzantium. Kedua masa itu corak filsafatnya tetap dicirikan oleh kuatnya
kredo iman (dogma agama) yang lebih bernuansa metafisis ketimbang
rasionalitas/nalariah. Bangunan epistemologinya bersumber dari filsafat
platonian dan stoisisme, Santo Anselmus sampai-sampai membuat adagium credo ut
intelligam (aku percaya agar aku mengerti) yang seolah menegaskan corak
pemikiran filsafat saat itu. Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat
rasional yang mendahulukan pemahaman terlebih dulu daripada iman.
Puncak kejayaan masa skolastik dicapai
melalui pemikiran Thomas Aquinas. Ia mendapat gelar "The Angelic
Doctor", karena banyak pikirannya, terutama dalam "Summa
Theologia" menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gereja. Menurutnya, pengetahuan
berbeda dengan kepercayaan. Pengetahuan didapat melalui indera dan diolah akal.
Namun, akal tidak mampu mencapai realitas tertinggi yang ada pada daerah
adikodrati. Ini merupakan masalah keagamaan yang harus diselesaikan dengan
kepercayaan. Dalil-dalil akal atau filsafat harus dikembangkan dalam upaya
memperkuat dalil-dali agama dan mengabdi kepada Tuhan.
Belakangan, menghadapi abad XII, Eropa
membuka kembali kebebasan berpikir yang dipelopori oleh Peter Abelardus. Ia
menginginkan kebebasan berpikir dengan membalik diktum Augustinus-Anselmus
credo ut intelligam dan merumuskan pandangannya sendiri menjadi intelligo ut
credom (saya paham supaya saya percaya). Peter Abelardus memberikan status yang
lebih tinggi kepada penalaran dari pada iman.
Pada tahap akhir masa skolastik terdapat
filosof yang berbeda pandangan dengan Thomas Aquinas, yaitu William Occam.
Tulisan-tulisannya menyerang kekuasaan gereja dan teologi Kristen. Karenanya,
ia tidak begitu disukai dan kemudian dipenjarakan oleh Paus. Namun, ia berhasil
meloloskan diri dan meminta suaka politik kepada Kaisar Louis IV, sehingga ia
terlibat konflik berkepanjangan dengan gereja dan negara. William Occam merasa
membela agama dengan menceraikan ilmu dari teologi. Tuhan harus diterima atas
dasar keimanan, bukan dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak
dapat didemonstrasikan.
Pada abad pertengahan, perkembangan alam
pikiran di Barat amat terkekang oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran
agama (doktrin gereja). Perkembangan penalaran tidak dilarang, tetapi harus
disesuaikan dan diabdikan pada keyakinan agama. Filsafat pada masa itu
mencurahkan perhatian terhadap masalah metafisik. Saat itu sulit membedakan
mana filsafat dan mana teologi gereja. Sedangkan periode sejarah yang umumnya
disebut modern memiliki sudut pandang mental yang berbeda dalam banyak hal,
terutama kewibawaan gereja semakin memudar, sementara itu otoritas ilmu
pengetahuan semakin kuat.
Masa filsafat modern diawali dengan
munculnya renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud melahirkan
kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Problem utama masa renaissance,
sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah
yang berbeda. Era renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada
berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial. Filosof masa
renaissance antara lain Francis Bacon. Ia berpendapat bahwa filsafat harus
dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan
Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam
teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya
bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang
membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan
wahyu.
Puncak masa renaissance muncul pada era
Rene Descartes yang sering dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor
aliran Rasionalisme. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan diri
dari kungkungan gereja. Semboyan lantangnya yang berbunyi “cogito ergo sum”
(saya berpikir maka saya ada) sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran
modern, karena mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi
eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat kembali mendapatkan kejayaannya
dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh
kebenaran.
Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan
pelopor utamanya, Thomas Hobbes dan John Locke. Aliran Empirisme berpendapat
bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman
batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi
sebagai bentuk pengenalan yang sempurna. Di tengah gegap gempitanya pemikiran
rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang
ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau
Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M.
Pada abad ini dirumuskan adanya
keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga
Voltaire menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah
satu konsekwensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada
gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains. Meskipun demikian, di
antara pemikir zaman aufklarung ada yang memperhatikan masalah agama, seperti
David Hume. Menurutnya, agama lahir dari hopes and fears (harapan dan
penderitaan manusia). Agama berkembang melalui proses dari yang asli, yang
bersifat politeis, kepada agama yang bersifat monoteis.
Kemudian Jean Jacques Rousseau berjuang
melawan dominasi abad pencerahan yang materialistis dan atheis. Ia menentang
rasionalisme yang membuat kehidupan menjadi gersang. Ia dikenal dengan
semboyannya retournous a la nature (kembali ke keadaan asal), yakni kembali menjalin
keakraban dengan alam.
Tokoh lainnya adalah Imanuel Kant.
Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme.
Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara
apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh
dari pengalaman (aposteriori). Ia berusaha meneliti kemampuan dan batas-batas
rasio. Ia memposisikan akal dan rasa pada tempatnya, menyelamatkan sains dan agama
dari gangguan skeptisisme.
Tokoh idealisme lainnya adalah George
Wilhelm Friedrich Hegel. Filsafatnya dikenal dengan idealisme absolut yang
bersifat monistik, yaitu seluruh yang ada merupakan bentuk dari akal yang satu,
yakni akal yang absolut (absolut mind). Ia memandang agama Kristen yang
dipahaminya secara panteistik sebagai bentuk terindah dan tertinggi dari segala
agama.
Sementara itu, Jeremy Benthem di Inggris
mengawali tumbuhnya aliran Utilitarianisme. Utility dalam bahasa Inggris
berarti kegunaan dan manfaat. Makna semacam inilah yang menjadi dasar aliran
Utilitarianisme. Tokoh lain aliran ini adalah John Stuart Mill dan Henry
Sidgwick. Menurut aliran utilitarianis bahwa pilihan terbaik dari berbagai
kemungkinan tindakan perorangan maupun kolektif adalah yang paling banyak
memberikan kebahagiaan pada banyak orang. Kebahagiaan diartikan sebagai
terwujudnya rasa senang dan selamat atau hilangnya rasa sakit dan was-was. Hal
ini bukan saja menjadi ukuran moral dan kebenaran, tetapi juga menjadi tujuan
individu, masyarakat, dan negara.
Aliran filsafat yang lain adalah
Positivisme. Dasar-dasar filsafat ini dibangun oleh Saint Simon dan
dikembangkan oleh Auguste Comte. Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia
berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisik, dan
positif. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang
disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut
kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak, karena
kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.
Auguste Comte mencoba mengembangkan
Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti
dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja
kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran
ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat
materi, yang dikenal dengan Materialisme.
Tokoh aliran Materialisme adalah Feurbach.
Ia menyatakan bahwa kepercayaan manusia kepada Allah sebenarnya berasal dari
keinginan manusia yang merasa tidak bahagia. Lalu, manusia mencipta Wujud yang
dapat dijadikan tumpuan harapan yaitu Tuhan, sehingga Feurbach menyatakan
teologi harus diganti dengan antropologi. Tokoh lain aliran Materialisme adalah
Karl Marx yang menentang segala bentuk spiritualisme. Ia bersama Friederich
Engels membangun pemikiran komunisme pada tahun 1848 dengan manifesto
komunisme. Karl Marx memandang bahwa manusia itu bebas, tidak terikat dengan
yang transendental. Kehidupan manusia ditentukan oleh materi. Agama sebagai
proyeksi kehendak manusia, bukan berasal dari dunia ghaib.
Periode filsafat modern di Barat
menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan
anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan
diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern
merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi oleh gereja
DAFTAR PUSTAKA
Asmoro Asmadi, Filsafat Umum, Raja Grafindo
Persada, tt.
F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, dari
Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia, 2004
K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius,
1998
Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern,
Dari Descartes sampai Wittgenstein, PT Pantja Simpati, 1986
Yuli A. Hambali et. al, Pemulihan Peran Subjek, http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/hmnk/article/view/1553/1517
Tidak ada komentar:
Posting Komentar